Perlu Dorongan!!!!!
#LembarSatwa18
-SkalaLia-
Seringnya kita memang dituntut
lebih untuk selalu bisa menghipnotis diri sendiri, memberikan sugesti yang baik
kepada diri kita sendiri. Pikiran-pikiran positif yang kita ciptakan sendiri
sebenarnya hanya untuk meredam laju yang sudah tidak bisa lagi di rem. Rem
manusia itu hampir sama seperti sifat sabarnya manusia. Bukan hanya kendaraan
saja yang punya rem, tapi apakah kualitas rem manusia sama halnya dengan rem
kendaraan? Saya rasa tidak sama. Rem kendaraan punya masanya bertahan sampai
seberapa lama ini bisa dipakai pemiliknya. Sifatnya yang tak kekal, karena
segala bentuk yang diciptakan oleh manusia pasti tidak abadi. Lalu apakah
manusia bisa kekal? Ya, tidak juga. Manusia juga tidak abadi, buktinya segala
bentuk kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri, dan yang pasti terjadi
adalah kematian itu sendiri. Lalu hubungannya rem manusia dengan kendaraan apa?
Seperti yang sudah dijelaskan, jika rem dianalogikan dengan sifat manusia yaitu
sabar, maka remnya kendaraan itu pasti ada batasnya, tapi tidak dengan manusia.
Meskipun banyak di luar sana manusia memang selalu tidak sabaran tetapi ada
contoh yang nyata dalam wujud manusia. Lalu siapakah dia? Siapa lagi kalau
bukan Nabi Muhammad, suri tauladan umat manusia, yang sabarnya saja tidak ada
batasnya. Menghadapi musuhnya, bahkan
menghadapi kaumnya sendiri. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah seberapa jauh
belajar tentang bersabar? Sudah berapa menahan amarah, keluhan, ujian dan hal
lainnya yang sekiranya menguras tenaga. Allah itu memberikan ujian pas tepat,
tidak akan melenceng kemana-mana. Soal permasalahannya ada dan sepaket juga
dengan jawabannya. Lalu kenapa saya juga masih belum bersabar menghadapi setiap
ujian yang setiap waktu hanya menunggu pergantian ujian saja? Berhubungan
dengan rem kendaraan, saya jadi ingat tentang hari ini. Tentang kejadian
pengambilan data ke lapangan minggu ketiga bersama rekan saya seorang, Lidya. Ia
mulai bertanya berapa lama perjalanan ketika sudah di jalan, sudah sampai
seberapa perjalanan, dan hal lainnya yang seimbang, antara keluhan dan dorongan
untuk tetap semangat. Sayangnya hal tersebut lambat laun mulai terbiasa bagi
saya pribadi, saya harus mensugesti orang-orang dibelakang saya, yang saya
boncengi dibelakang, untuk tetap sabar dan bertahan. Bisa dibayangkan dua
wanita harus melalui perjalanan Jogja-Temanggung, 3 jam lebih untuk sampai
ke lokasi dengan medan yang tidak datar-datar saja. Perjalanan kali ini saya
hampir hafal jalan Jogja-Temanggung, menuju Desa Kemuning. Di sepanjang perjalanan
memang tidak ada hal yang bermasalah, paling hanya rasa pegal sesekali saja,
karena terlalu lama harus berada di atas motor. Saya terus membuatnya senang “Bentar
lagi nyampe kok”, “Nah nanti lurus aja tuh..” “Pelan-pelan ya soalnya kita
bentar lagi sampai”. Lidya anaknya ekspresif sekali, jadi saya juga
tahu bagaimana keadaan hatinya jika sudah merasa capek ataupun sudah merasa
baik-baik saja. Karena perjalanan bersamanya bukan pertama kali saya lakukan.
Kita pernah satu kelompok untuk praktikum Riset dan Manajemen Satwa liar, harus
bulak-balik lokasi untuk mengambil data. Sedikit banyaknya saya sudah tahu
bagaimana mengendalikannya, supaya dia tetap merasa baik-baik saja. Perjalanan
kali ini pun juga tidak kalah dramanya, jika Angga harus turun dari sepeda
motornya untuk menuntun sepeda motornya yang tidak sanggup untuk diajak
menanjak ke tanjakan yang lumayan miring, maka kali ini saya juga melakukannya
bahkan melebihinya. Kali ini saya dengan lidya harus turun lebih jauh sebelum
mencapai puncak tanjakan yang kedua. Informasi saja, untuk mencapai desa
Kemunng yang letaknya seperti diperbukitan, kita perlu melewati dua tanjakan
yang cukup miring, kadang tidak banyak sepeda motor yang sanggup menanjak,
mungkin kalau hanya seorang saja masih sanggup, dan mungkin juga semuanya
tergantung kualitas dari sepeda motornya. Saya dan Lidya harus turun jauh untuk
bisa sampai ke tanjakan yang kedua, selebihnya jalanan normal, datar. Baru kali
ini harus turun sejauh ini, berjalan sembari menarik gas motor supaya bisa terus
berjalan. Sepeda motor kali ini salah satu bentuk ujian saya, belum ambil data
saja harus seperti ini dulu. Saya coba untuk menaikinya seorang, ia bisa
berjalan bersamaan, kemudian diam tak bisa menanjak. Lidya yang turun kemudian
berjalan dengan nafas yang mulai tak beraturan. Saya memintanya untuk sedikit
bersabar pun sebaliknya. Kami bergantian untuk menuntun sepeda motor supaya
bisa menanjak naik ke atas. Pertolongan Allah datang, ada motor yang lewat,
seorang Bapak yang menyapa kami dan bertanya, saya hanya menjawab sekenanya
dengan nafas yang sudah tak beraturan, ngos-ngosan. Ternyata bapak itu berhenti
ketika sudah sampai puncak, beliau turun dan membantu mendorong kami, aku dan
beliau mendorong, Lidya menarik gas. Kemudian sampailah ke puncak tanjakannya,
sudah ku lihat jalanan yang datar yang seperti bisa kulalui. Datanglah pak
sekertaris desa yang masih ku ingat. Ia menanyakan perihal ini, ku jawab dengan
santun dan jelas, hingga akhirnya ia bertanya siapa diriku dan lidya. Ku
jelaskan lagi, saya orang yang pernah ke sini beberapa minggu lalu, yang pernah
main ke kelurahan ketika menjelang 17 Agustus, saya buka masker di wajah.
Bapaknya ingat ketika melihat wajah saya. Setelahnya datang lagi seorang bapak,
ketika akan saya naiki motornya, sepeda motor ini mengeluarkan asap, bukan dari
kenalpot, saya pikir demikian. Bapak yang baru datang lagi sedikit ketakutan
karena asap yang keluar bukan dari bagian kenalpot karena belum diganti oli,
tapi dari bagian motor yang saja tidak begitu tahu itu apa, entah rollernya
yang terbakar, atas kampas rem nya yang sudah tidak layak. Padahal siang tadi,
baru saja saya service motornya. Memang harus begitu!! Hingga akhirnya, bapak
yang menolong saya pertama kali ini yang menawarkan untuk menaiki motornya
saja, saya dengan Lidya dan bapaknya harus mendorong motornya tanpa harus
dinyalakan mesinnya. Untung saja jalanannya datar sedikit menurun, setidaknya
tidak begitu berat tetapi begitu merepotkan. Hmmm
Lagi-lagi, selama saya masih
bernafas saya akan terus diberikan ujian sama Allah. Pun dengan hal ini,
setidaknya saya hanya perlu percaya bahwa saya mampu untuk sampai ke puncak dan
setelahnya juga saya ternyata harus mendapati sebuah ujian yang lain, motor
yang tidak dibisa dipakai karena sudah tidak bisa dipaksakan. Semakin dipaksa
akan semakin tidak berfungsi. Hanya perlu menerima saja, semuanya akan
baik-baik saja, selama masih ada pertolongan Allah, dalam bentuk manusia dan
bengkel sepeda motor. Nah jadi begitu, kita memang perlu menyerahkan semuanya
pada Allah, tapi kita juga harus berusaha dulu, membawa ke bengkel kan
solusinya, karena hanya berdoa saja juga tidak cukup. Ada orang yang membantu
pun pasti akan tetap melarikannya ke tempat yang tepat, bengkel motor.
Lagi-lagi, saya benar-benar
sadar bahwa sebenarnya semuanya adalah takdir terbaik. Tidak perlu menunggu
indah pada waktunya, cara menerima kita adalah sejak sabar sedari awal ujian
itu datang. Bahkan semua ini adalah takdir terbaik, plot ukur yang masih 123
plot ukur lagi juga adalah takdir terbaik, bagian motor yang harus terbakar pun
juga takdir terbaik, barang kali memang saya juga lupa kapan terakhir kali
bersedekah, kapan terakir kali menyisihkan untuk korban Lombok yang bencananya
sampai sekarang belum masuk bencana nasional, barang kali saya juga lupa harus
memberikan hadiah atau pun menengok temannya yang sedang sakit. Hmmm..
Lagi-lagi, kita hanya perlu
menyalahkan diri kita sendiri, kenapa bisa sampai tidak sepeka itu terhadap
diri sendiri dan orang lain? Manusiawi sekali bukan, harus bangkit menunggu
jatuh terlebih dahulu. Sama seperti sepeda motor ini, harus menunggu rusak dulu
di jalan baru mau di servis.. Kita Cuma perlu menempatkan sesuatu pada
tempatnya, kalau jadwalnya shalat ya shalat, jadwalnya istrihat ya istirahat,
jadwalnya berbenah setiap hari ya setiap hari berbenah diri. Sedari itu,
pastikan tidak ada ladang-ladang yang terdzolimi hanya karena kita terlalu
optimis akan kehidupan di masa depan yang menurut kita masih panjang yang selalu
kita awali dengan perkataan “Bentar
deh....”
Kemuning,
14 September 2018
Lia
Muslimah

Komentar
Posting Komentar