Langsung ke konten utama

WISUDA GANESHA ITB...


Wisuda Ganesha
#LembarSatwa19
-SkalaLia-

Ku foto sebuah dinding yang hampir semuanya tertutupi oleh tanaman hias dinding, dengan sorotan lampu ditengahnya membuat foto ini terkesan lebih bergaya jadul. Tak menunggu lama kali ini. Ia datang dan mengingatkan ku pada sesuatu. Hari minggu dan dia temanku, Dani. Perempuan yang pernah menghabiskan waktu bersama dalam satu minggu ke tiga kota. Berangkat dari Jogja-Purwokerto-Bandung-Bogor.
“Kamu ingat ini hari apa?”“Apa emang?”“Ini minggu, inget gak sih. Hari sabtu Oktober tahun lalu Yeyen wisuda, kita ke sana. Pantes, tadi di ntagram anak-anak ITB lagi pada ngerayaan pagelaren wisudanya itu loh dan”“Oiya ya....” Ia ingat kegirangan.
“Yeyen lulus Oktober tahun lalu, lah gue masih belum lulus.. hahahaha”“Iya ya, udah kerja juga dia...”
Obrolan singkat dan ingatan itu yang akhirnya ingin ku ceritakan pada #LembarSatwa selanjutnya. Bagaimana tidak, Aku jadi harus memutar memori, mengingat bagaimana tahun kemarin harus melakukan hal yang cukup diperhitungkan oleh ku, sayangnya perhitungan itu meleset. Lagi-lagi, hati ini mulai tumbuh rasa kufurnya, rasa tidak bersyukurnya karena mulai muncul perasaan “Wahh... seandainya aja, tahun kemarin aku ngerjain draft proposal, mungkin aku udah selesai tahun ini” “Harusnya tuh kemarin fokus sama skripsian aja lia..” Kalimat-kalimat seperti itu adalah wujud dari rasa tidak bersyukurnya seseorang. Yang tadinya lupa dan mengikhlaskan harus ingat dan tidak bersyukur. Jadi intinya saya masih tidak ikhlas dong? Hmm...

Tepat Oktober tahun lalu, aku dan Dhani berangkat ke Bandung, hari sabtu pagi. Sesampainya di sana siang hari sekitar pukul jam 11. Bertemu Yeyen dalam keadaan masih memakai Toga, pada saat itu usai ia berfoto studi bersama keluarga. Sampailah di indekos Yeyen yang isi ruangannya dipenuhi dengan jajanan dan hadiah lain ucapan wisuda.

Kali ini yeyen masih dalam keadaan cantik dengan make-up yang sederhananya. Kami istirahat sejenak kemudian berfoto di lantai dua, yang di mana itu adalah tempat menjemur pakaian dengan latar putih yang mendukung untuk tempat foto kami berdua. Rasanya bahagia sekali melihatnya sudah hengkang dari kampus yang saya suka dengan kalimat semboyannya “Untuk Bangsa dan Almamater”, Ganesha, ITB. Sengaja ku sempatkan datang ke Bandung hanya untuk sekedar berfoto dan ditraktir. Selebihnya main ke kampusnya, Mesjid Salman dan hadiahnya street food Salman yang murah dan jelas enak. Perjalanan di Bandung juga hanya singkat sekali, sorenya kami langsung pergi ke Bogor untuk mengikuti sesi presentasi lomba karya tulis ilmiah bersama dani dan satu rekan tim kami. Kami bukan satu-satunya tim dari UGM, masih ada dua tim lagi yang juga lolos ke tahap ini.

Lomba karya tulis ilmiah ini adalah bagian dari resolusi skripsi yang aku batalkan di semester 7 lalu. Alasannya karena tidak ingin berada di Lab yang sudah ditentukan oleh pihak komite skripsi. Pilihan pertam terlempar ke pilihan kedua. Terus input skripsi di semester 8 kembali dan ternyata, pilihan pertama jatuh ke pilihan terakhir, pilihan lima di Lab. Satwa Liar yang sekarang sedang aku nikmati, doakan semoga bisa aku tuntaskan sampai akhir dengan sebuah hasil yang membanggakan dan penelitian ini tidak dianggap remeh temeh.

Kalau harus menceritakan yang sudah terkubur padahal sebenarnya kenangan memang tidak perlu dikubur, karena juga tidak pernah mati, akan selalu hidup. Rasanya tidak adil saja jika harus mengutuk sesuatu hal yang sebenarnya sudah diatur di luar kehendak manusia, itu memang takdir namanya. Malah sekarang aku lebih bersyukur diberi dua dosen pembimbing dengan gaya membimbing yang sangat peduli tapi keduanya punya cara masing-masing menghadapi anak seperti aku. Dari Pak Imron aku belajar soal adab, tatakrama, dan melakukan skripsi secara tidak terburu dan belajar hal baru. Dari Bu Adri pun aku belajar soal ketelitian dan sabar, rasa tidak khawatir terhadap sesuatu,. Dua kombinasi ini apa tidak begitu menguntungkan? Jelas menguntungkan!! Menguntungkan sekali soal belajar lebih untuk mahasiswa sepertiku.

Terimakasih anak-anak ITB yang diwisuda hari ini. Ada untungnya juga ternyata berteman dengan mereka di lini masa, setidaknya moment pagelaran wisuda kalian menjadi pengingat bahwa betapa sudah sangat lamanya aku berada di kampus dan harus segera hengkang dari sini. Maka menyelesaikan skripsi adalah salah satu bentuk tanggung jawab seorang anak pada orangtuanya, seorang mahasiswa pada universitasnya. Sekarang hanya perlu tenang dan tidak usah khawatir, karena kilometer kita tentu akan berbeda dengan kilometer mahasiswa yang lain....

Terimakasih Dan, Oktober tahun ini aku masih bersamamu dengan menyandang status yang masih sama, mahasiswa semester 9 dan masih jomblo.


Condongcatur, 21 Oktober 2018
Lia Muslimah
#22tahunbercerita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANDOM..... IT'S ALL ABOUT YOU #RANDOMTALK

RANDOM -Skalalia- Duri telah berpindah dari tepi batang pohon Jatuh ke tanah setelah melewati fase waktu hembusan angin, suaranya angin tumbang Bukan biji buah yang dengannya menimbulkan generasi baru Apalagi buah jatuhan yang kualitasnya jelas sudah terduga, tubuh ke tanah dan jiwa ke angkasa... Seorang ibu melahirkan seorang anak dengan banyak tarikan nafas Seorang anak tumbuh berkembang   tanpa cacat dengan banyak dorongan tenaga Waktu yang melambat dan di percepat karena ulah manusia Dan tak berjalan mundur dan hari tak akan pernah terulang... Hari buruk datang untuk mengingatkanmu bahwa Tuhan ada kapanpun Untuk meminta-Nya membuat kembali lekukan di bibir, dengan memohon, terisak sesak Tidak percaya pada dunia baru membuat kita keliru, mencari dan akhirnya bosan Terdiam dan melamun setelahnya kau sadar bahwa hidup bukan soal meminta tetapi memberi lebih.. Serupa kegembiraan yang menjeda pada petang itu Tergambarnya langit dengan warna...

ADA IDE YANG MENDESAK INGIN DIEKSPRESIKAN

Selamat pagi, siang, sore, dan malam... Semoga yang menjadi senantiasa diberikan kesabaran atas apapun isi dari tulisan ini.  Perkenalkan nama saya Lia Muslimah. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua saya adalah seorang buruh di Pasar Sepatan dan seorang guru TK dan MDTA di rumah. Saya adalah seorang mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang baru saja menjalani sidang skripsi terkait kukang jawa ( Nycicebus javanicus ) di laboratorium satwa liar. Saya berasal dari sebuah desa di bagian utara kabupaten Tangerang, tepatnya di kecamatan Mauk. Salah satu kecamatan yang termasuk kedalam kecamatan tertinggal dari segi pendidikan. Sedih bukan termasuk ke dalam kecamatan tertinggal. Sejak saya sekolah di bangun sekolah dasar saya sudah mempunyai keinginan untuk kuliah, angan-angan jadi orang yang kuliah dan menjadi orang yang besar. Pikir sempit ku waktu itu. Tapi nyatanya tidak banyak yang akhirnya memiliki pemikiran yang sama untuk kuliah padahal setiap d...

Menantang Diri Lagi???

Menantang Diri Lagi??? Bertemu lagi dengan sabtu malam, di tempat yang sama, dan bukan di asrama tempat ku berdiam diri.  Sangat tidak produktif sekali, menulis tidak lagi menjadi bagian dari prioritas. Padahal tidak hanya satu, dua ataupun tiga ide-ide maupun cerita yang ingin dituangkan dalam tulisan. Sedih sekali rasanya ternyata diri ini masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Sabtu malam ini ingin ku curahkan hati ku, bagaimana bisa anak sekeras ini bisa selemah ini soal percintaan. Menurutku sangat wajar sekali, bahkan harusnya memang bersyukur karena masih bisa merasakan hal seperti ini. Bahkan dengan ini kadang aku jadi belajar bagaimana mengatasi orang-orang yang mengalami hal yang sama. Lalu kamu mau cerita apa kali ini?  Aku mau cerita hal yang sama, yang aku tuju pun sama orangnya. Itu-itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Aku tidak bisa menyebutkan namanya, karena aku pikir semakin hari ke hari sepertinya ini akan menjadi cerita saja. Cerita dari sisa hidup...