Wisuda
Ganesha
Ku foto sebuah dinding yang
hampir semuanya tertutupi oleh tanaman hias dinding, dengan sorotan lampu
ditengahnya membuat foto ini terkesan lebih bergaya jadul. Tak menunggu lama
kali ini. Ia datang dan mengingatkan ku pada sesuatu. Hari minggu dan dia
temanku, Dani. Perempuan yang pernah menghabiskan waktu bersama dalam satu
minggu ke tiga kota. Berangkat dari Jogja-Purwokerto-Bandung-Bogor.
“Kamu ingat ini hari apa?”“Apa emang?”“Ini minggu, inget gak sih. Hari sabtu Oktober tahun lalu Yeyen wisuda, kita ke sana. Pantes, tadi di ntagram anak-anak ITB lagi pada ngerayaan pagelaren wisudanya itu loh dan”“Oiya ya....” Ia ingat kegirangan.
“Yeyen lulus Oktober tahun lalu, lah gue masih belum lulus.. hahahaha”“Iya ya, udah kerja juga dia...”
Obrolan singkat dan ingatan itu
yang akhirnya ingin ku ceritakan pada #LembarSatwa selanjutnya. Bagaimana
tidak, Aku jadi harus memutar memori, mengingat bagaimana tahun kemarin harus
melakukan hal yang cukup diperhitungkan oleh ku, sayangnya perhitungan itu
meleset. Lagi-lagi, hati ini mulai tumbuh rasa kufurnya, rasa tidak
bersyukurnya karena mulai muncul perasaan “Wahh... seandainya aja, tahun kemarin
aku ngerjain draft proposal, mungkin aku udah selesai tahun ini” “Harusnya tuh
kemarin fokus sama skripsian aja lia..” Kalimat-kalimat seperti itu adalah
wujud dari rasa tidak bersyukurnya seseorang. Yang tadinya lupa dan mengikhlaskan
harus ingat dan tidak bersyukur. Jadi intinya saya masih tidak ikhlas dong?
Hmm...
Tepat Oktober tahun lalu, aku
dan Dhani berangkat ke Bandung, hari sabtu pagi. Sesampainya di sana siang hari
sekitar pukul jam 11. Bertemu Yeyen dalam keadaan masih memakai Toga, pada saat
itu usai ia berfoto studi bersama keluarga. Sampailah di indekos Yeyen yang isi
ruangannya dipenuhi dengan jajanan dan hadiah lain ucapan wisuda.
Kali ini yeyen masih dalam
keadaan cantik dengan make-up yang sederhananya. Kami istirahat sejenak
kemudian berfoto di lantai dua, yang di mana itu adalah tempat menjemur pakaian
dengan latar putih yang mendukung untuk tempat foto kami berdua. Rasanya
bahagia sekali melihatnya sudah hengkang dari kampus yang saya suka dengan
kalimat semboyannya “Untuk Bangsa dan Almamater”, Ganesha, ITB. Sengaja ku
sempatkan datang ke Bandung hanya untuk sekedar berfoto dan ditraktir. Selebihnya
main ke kampusnya, Mesjid Salman dan hadiahnya street food Salman yang murah dan jelas enak. Perjalanan di Bandung
juga hanya singkat sekali, sorenya kami langsung pergi ke Bogor untuk mengikuti
sesi presentasi lomba karya tulis ilmiah bersama dani dan satu rekan tim kami. Kami
bukan satu-satunya tim dari UGM, masih ada dua tim lagi yang juga lolos ke
tahap ini.
Lomba karya tulis ilmiah ini
adalah bagian dari resolusi skripsi yang aku batalkan di semester 7 lalu. Alasannya
karena tidak ingin berada di Lab yang sudah ditentukan oleh pihak komite
skripsi. Pilihan pertam terlempar ke pilihan kedua. Terus input skripsi di
semester 8 kembali dan ternyata, pilihan pertama jatuh ke pilihan terakhir,
pilihan lima di Lab. Satwa Liar yang sekarang sedang aku nikmati, doakan semoga
bisa aku tuntaskan sampai akhir dengan sebuah hasil yang membanggakan dan
penelitian ini tidak dianggap remeh temeh.
Kalau harus menceritakan yang
sudah terkubur padahal sebenarnya kenangan memang tidak perlu dikubur, karena
juga tidak pernah mati, akan selalu hidup. Rasanya tidak adil saja jika harus
mengutuk sesuatu hal yang sebenarnya sudah diatur di luar kehendak manusia, itu
memang takdir namanya. Malah sekarang aku lebih bersyukur diberi dua dosen
pembimbing dengan gaya membimbing yang sangat peduli tapi keduanya punya cara
masing-masing menghadapi anak seperti aku. Dari Pak Imron aku belajar soal
adab, tatakrama, dan melakukan skripsi secara tidak terburu dan belajar hal
baru. Dari Bu Adri pun aku belajar soal ketelitian dan sabar, rasa tidak
khawatir terhadap sesuatu,. Dua kombinasi ini apa tidak begitu menguntungkan?
Jelas menguntungkan!! Menguntungkan sekali soal belajar lebih untuk mahasiswa
sepertiku.
Terimakasih anak-anak ITB yang
diwisuda hari ini. Ada untungnya juga ternyata berteman dengan mereka di lini
masa, setidaknya moment pagelaran wisuda kalian menjadi pengingat bahwa betapa
sudah sangat lamanya aku berada di kampus dan harus segera hengkang dari sini. Maka
menyelesaikan skripsi adalah salah satu bentuk tanggung jawab seorang anak pada
orangtuanya, seorang mahasiswa pada universitasnya. Sekarang hanya perlu tenang
dan tidak usah khawatir, karena kilometer kita tentu akan berbeda dengan
kilometer mahasiswa yang lain....
Terimakasih Dan, Oktober tahun
ini aku masih bersamamu dengan menyandang status yang masih sama, mahasiswa
semester 9 dan masih jomblo.
Condongcatur, 21 Oktober 2018
Lia Muslimah
#22tahunbercerita

Komentar
Posting Komentar