Menantang Diri Lagi???
Bertemu lagi dengan sabtu malam, di tempat yang sama, dan bukan di asrama tempat ku berdiam diri.
Sangat tidak produktif sekali, menulis tidak lagi menjadi bagian dari prioritas. Padahal tidak hanya satu, dua ataupun tiga ide-ide maupun cerita yang ingin dituangkan dalam tulisan. Sedih sekali rasanya ternyata diri ini masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Sabtu malam ini ingin ku curahkan hati ku, bagaimana bisa anak sekeras ini bisa selemah ini soal percintaan. Menurutku sangat wajar sekali, bahkan harusnya memang bersyukur karena masih bisa merasakan hal seperti ini. Bahkan dengan ini kadang aku jadi belajar bagaimana mengatasi orang-orang yang mengalami hal yang sama. Lalu kamu mau cerita apa kali ini?
Aku mau cerita hal yang sama, yang aku tuju pun sama orangnya. Itu-itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Aku tidak bisa menyebutkan namanya, karena aku pikir semakin hari ke hari sepertinya ini akan menjadi cerita saja. Cerita dari sisa hidup di kota perantauan, Jogja. Bagaimana tidak, selepas diskusi online yang tidak sengaja kami lakukan lagi, aku semakin ragu tapi kadang mulut ku berbohong pada hatiku, hanya sekedar ingin menguatkan bahwa masih ada peluang selagi salah satu dari kita belum ada yang berstatus menikah. Lalu apakah hal seperti ini sehat bagi hari aku? Aku rasa sehat dan tidak sehat juga. Di satu sisi, aku membiarkan hati ku untuk tersakiti atas rasa penasaran yang aku bangun sendiri, di sisi lain aku juga meyakini kita juga perlu bertanggung jawab atas perasaan yang kita bangun sendiri pula, salah satunya adalah dengan mengikhtiarkan seseorang yang kita inginkan untuk jadi calon imam kita kelak di masa depan. Diskusi di mulai dari persepsi ku tentang masalah atlet yang didiskualifasi sampai dengan konsep rumah tangga, khususnya seorang istri yang harus ada di dalam rumah aktifitasnya. Diskusi online itu kadang banyak penafsirannya, mulai dari cara baca, nadanya yang mesti tidak sesuai dengan apa yang kita sampaikan. Sehingga kesalahpahaman seringlah terjadi, pun dengan ini. Aku merasa ada sesuatu hal yang mendorongku untuk keluar dari zona nyaman yang aku buat sendiri. Padahal aku juga yakin betul bahwa dia hanya menganggapku sebagai seorang teman saja yangtidak mungkin 'baper' padanya. Wahhhh sangat naif sekali kalau begitu....
Tidak hanya itu saja, seringnya mendapatkan nasihat darinya yang kadang aku pun tidak bisa menerimanya. Aku yakin niatnya pasti baik, supaya seorang wanita terjaga sampai ia bisa memiliki pendamping, supaya tidak terkena fitnah juga. Kerasnya hati yang tak bisa menerima itulah yang kemudian ada fase bosan diingatkan dan mengingatkan.
Hingga akhirnya aku berfikir, anak ini baik, sangat senang sekali mencari ilmu, bahkan sosial medianya pun tidak ada yang berisikan hal yang tidak baik. Ku putuskan untuk memprivasi status ku darinya. Tidak ingin membloknya lagi, karena malunya aku pernah terciduk membloknya, malu dan akhirnya meminta maaf. Kemudian disusul dengan pertanyaan "Selama alasannya syar'i aku gak masalah. Tapi kenapa diblok?". Ku jawab dengan tidak berbohong, tapi tidak dengan sebenarnya. Ibu ku memang melarangku untuk berkomukasi dengannya, Ibu bilang supaya tidak terlalu jatuh hati padanya. Pasalnya Ibu mengira bahwa anaknya sepertinya cintanya bertepuk sebelah tangan. Hingga akhirnya Ibu meminta untuk menghentikannya.
Sekarang, aku berharap supaya semuanya terselesaika dengan baik. Aku tidak merasa khawatir dan kecewa atas perasaan yang Allah hadirkan. Lagi pula dengan semakin semangatnya ia menuntut ilmu menjadikan ku bercermin, laki-laki pun butuh wanita yang cerdas dan berilmu. Cantik saja bahkan tidak cukup.
Aku ingin tahu akhir cerita ini akan seperti apa, aku dengan siapa dan dia dengan siapa.Allah tidak akan salah skenario, tapi berharap mempunyai calon imam...
Jangan ditiru yang jelek dari tulisan ini, jika kamu masih bisa melawan hawa nafsu untuk tidak berkomunikasi dengan lwan jenis maka lwan saja, lantas tidak boleh? Ya boleh hanya harus ada batasnya saja. Aku juga selalu berusaha supaya apa-apa yang aku lakukan tidak sampai merugikan diriku dan dia, terlebih lagi anak ini baik, sayang juga kan kalau harus ikut merusaknya. Astagfirullah....
Ulil Albab, 20 Oktober 2018
Lia Muslimah
Komentar
Posting Komentar