Jangan Salah Kaprah
#Lembarsatwa1
-SkalaLia-
Tulisan ini ku dedikasikan untuk
orang-orang yang sedih hatinya. Katanya orang-orang yang patah hatinya bisa
sangat indah menuliskan kata puitis bak penulis ulung.
Malam hari sudah dipersiapkan buku
agenda untuk mencatat kegiatan yang ingin direalisasikan. Satu persatu ditulis
dengan detail.
Adzan berkumandang menunjukan subuh
sudah tiba. Kegiatan dimulai dari kajian pagi asrama. Berlanjut pada jam
perkuliahan yang cukup membosankan. Mahasiswa yang memenuhi bangku belakang
penuh sudah, longgar pada bagian depan kelas. Tidak ingin menyianyiakan masa
akhir perkuliahan hanya dengan diam tanpa jawaban atas pertanyaan Dosen. Kelas
berakhir dengan pemberian materi kuliah untuk UTS.
Waktu memang terasa begitu saja
berlalu, tidak ingin tahu bagaimana kami seperti dikejar ketika berjalan.
Melangkahkan kaki ke kajian rimbawan di Taman Timur Kehutanan. Matahari mulai
membulat, menyinari dedaunan trembesi, mengisi celah antar ranting. Dibawahnya
kudapati sebuah kabar, lagi-lagi membuatku tak enak hati kepada teman-teman.
Setelah kejadian semester lalu yang memilukan hati para mahasiswa yang tidak
jadi diberangkatkan untuk praktek jurusan, kini kudapati lagi kabar tidak
menyenangkan dari teman-teman yang sudah berjuang menyelesaikan praktek
jurusan. Aku tidak tahu persis bagaimana detailnya kenapa itu terjadi, dibuat
penasaran, geram.
Setelah menenangkan diri di rumah
Tuhan, berfikir dengan kabar tadi. Ku bergegas untuk menyelesaikan kegiatan
yang lain, masih banyak aktivitas yang belum terselesaikan. Langkah kaki yang
sedikit tergesa-gesa sedikit melabat ketika ku lihat seorang wanita di lantai
dua gedung A melambaikan tangannya sembari berteriak.
“Liaaaaa… Gue gak ke kajian Luh tadi…” Ku ikut melambaikan tangan.
Semakin mendekat ku lihat ada perkumpulan mahasiswa KSDH yang seperti serius
sedang membahas sesuatu.
“Eh sini li…Kita berkabung” Suruh amanah dengan wajah sungguhan.
Ku iyakan, sepertinya ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan. Ku
lihat beberapa temanku yang sedang mengumpulkan uang entah untuk apa, ku
menyambutnya dengan salam. Mereka menjawab salam bersamaan. Ku tanyakan siapa
yang berkabung, mereka hanya memastikan merekalah yang berkabung. Ku peluk
salah satu dari mereka, pelukan yang sama kudapati kemarin, ketika ia menyadari
sudah lama tak bertemu. Pelukan itu terjadi di lorong auditorim fakultas. Berkabung
karena praktek jurusan yang harusnya sudah selesai bulan ini harus di gugurkan
karena sesuatu hal yang mungkin mereka malas untuk mengulang menceritakannya
lagi. Terlihat satu sama lain tak ingin membahasnya, kesedihannya sepertinya
sudah mulai berkurang, entah berkurang betulan atau hanya sekedar menghibur
diri. Ku perhatikan mata-mata yang segar terkena air mata yang mungkin sudah mereka
teteskan, dan kali ini ku tak bisa bayangkan bagaimana campur aduknya hati
wanita yang hatinya tersakiti karena terlalu lama menunggu, iya benar kadang
waktu memang tidak cocok untuk mereka yang menunggu, apalagi harus menerima
kenyataan pahit yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Ada hal yang menarik akibat kejadian
ini, mereka ingin mendekatkan diri pada Allah. Bisa jadi inilah cara Allah
mendikte satu persatu kalimat yang terucap dari mulut mereka sehingga
terdengarkan kalimat yang mengharukan. “Li kita pengen ngaji li, kayanya kita
perlu deket sama Allah Li”, “Li, nanti luh jadi ustadzahnya li”, “Kapan deh
waktu luang luh”. Begitulah kira-kira kalimat yang mereka lontarkan, aku yang
sempat menolak, karena merasa belum ada apa-apanya, apalagi harus berhadapan
dengan anak-anak yang seumuran, rasanya belum pantas dan canggung. Setelah
difikir ulang ada baiknya tidak melepas umpan tanpa pancingan ini. Berbagi
kepada teman-teman bukankah salah satu ciri seorang muslim, sambil terus
menyambung silaturahmi.
Kupastikan tidak ada lagi yang ingin
dibahas, karena harus bergegas ke sebuah tempat, telat tiga puluh menit,
baiklah. Sedikit berlari ke parkiran barat kehutanan. Mencari tempat dimana ku
parkirkan sepeda motor. Cepat asal selamat. Dalam perjalanan lagi-lagi ku
bersyukur tanpa henti betapa Allah tak henti-hentinya menunjukkan bahwa kamu
adalah orang yang beruntung sesungguhnya. Bahkan sebelum menuju ke masjid,
nabil berkata “Zamannya kalian beruntung tuh Praktek Jurusannya” Aku hanya
mengucapkan alhamdulillah. Pernyataannya membuatku tak enak hati pada teman
seangakatan sendiri.
Dalam sebuah pertemuan rutin ku
ceritakan kabar yang hari ini ku dapat, ku minta pada mereka untuk mendoakan
teman-teman yang hari ini terdzolimi dan aku juga bersyukur lewat mereka Allah
memperlihatkan celahnya bahwa ujian yang Dia berikan beberapa hari lalu ketika
pengumuman laboratorium penelitian skripsi adalah salah satu bentuk kenikmatan
untuk meningkatkan kapasitas diri hambanya.
Iya betul, penguman itu membuatku
tak ingin membalas semua pesan yang masuk, entah karena kasihan melihatku harus
terlempar ke pilihan kelima. Sebelumnya sudah ku dapatkan hal serupa, hanya
bedanya terbuang dari pilihan pertama ke kedua, yang membuatku juga menggugurkan
skripsi dan menggantinya dengan resolusi yang benar-benar ku kejar dan ku
kerjakan. Tepat sasaran, bahkan diluar target, semua resolusi telak terlaksana.
Kemudian ku siapkan diri menyambut skripsi dengan semangat betulan. Kali ini
menempatkan pilihan kedua di semester 7 pada pilihan pertama, yang kemudian
harus terbuang jauh ke pilihan kelima. Tak ingin banyak tanya pada pihak
departemen yang sudah menentukan. Yang akhirnya membuatku yakin bahwa penentuin
ini bukan tanpa perhitungan, jelas ini adalah cara kerja tangan Allah lewat
mereka untuk menaikan derajat manusia beberapa tingkatan jika manusia mampu
melewatinya.
Pengumuman itu jelas membuatku
terdiam, menangis, dan mendzolimi beberapa orang yang mengkhawatirkanku,
terutama Ibu di rumah yang hampir putus asa karena semua pesannya hanya di baca
tanpa penjelasan. Pesan-pesan yang masuk pun hanya ku baca saja, rasanya malas
sekali harus menjawab pertanyaan yang sama. Hingga akhirnya muncullah sebuah
pesan yang mengharukan. Lagi-lagi wanita ini membuatku menangis tersedu-sedu
dalam sebuah kamar seorang diri ditemani buku bacaan berjudul ‘Terimakasih
Bapak’.
“Ibu bingung harus kaya gimana, Ibu gak ngerti kalo udah begini,
Ibu Cuma bisa doain teteh aja” pesan yang masuk membuatku bercerita yang
sebenarnya. Kemudian Ibu hanya menutupnya dengan pesan singkat. “Kamu jangan
ngeluh terus ya, semuanya sama-sama berjuang, Dede, Teteh, Ibu, Abah sama-sama
berjuang”. Jelas ini membuatku menangis. Sengaja hanya berkomunikasi lewat chatting
WA. Rasanya tak kuat harus mendengar suara lirih Ibu yang punya sifat protektif
terhadap anaknya, aku tahu Ibu mana yang tak khawatir anaknya terjatuh lagi
lebih dalam. Egois sekali bukan mahasiswa semester 8 ini yang tidak bisa
menerima kenyataan harus menyelesaikan skripsinya di laboratorium satwa liar.
Ku pejamkan mata siang itu berharap kabar siang ini betulan mimpi. Nyatanya
setelah bangun dari tidur, mencubit tangan dan melihat pengumuman kembali
memperjelas bahwa ini memang bukan mimpi disiang bolong. Pesan yang masuk ku
balas satu persatu-satu sekitar jam 22.30 setelah semuanya tahu kabar
mengagetkan yang ku dapat. Semua anak-anak asrama pun juga lega mendengar
penjelasan atas diamnya aku yang mengurung diri dalam kamar.
Hari dimana ku dapatkan kabar itu,
hari itu juga ku tekadkan untuk menerima segala yang ada. Tidak harus mundur
seperti sebelumnya, tidak bertanggung jawab dan dzolim kepada orangtua karena
keegoisan yang dibangun. Hari berganti, pesan pesan syahdu sang Ibu terus
berdatangan. Pagi itu sebelum subuh, berbunyi tanda pesan masuk. Ku baca satu
persatu, kali ini semakin kuat tekad
untuk melanjutkan skripsi di lab.satwa liar.
“Teh coba deh teteh inget-inget perjuangan buat bisa kuliah di UGM”
“Coba diinget-inget pas Ibu sama Abah ngusahain biar kamu bisa
kuliah di UGM”
“Dulu Ibu sama Abah mikir loh pas kamu masuk UGM, mahal banget
biaya kuliah”
“Orang-orang tuh suka loh, muji ibu gara-gara anaknya kuliah di UGM”
“Orang-orang tuh suka loh, muji ibu gara-gara anaknya kuliah di UGM”
“Ngira kamu pinter, makanya bisa kuliah di UGM”
“Padahal Ibu tau, kamu biasa aja di akademik”
“Teteh kalo bukan karena Allah teteh gak mungkin bisa kuliah di
UGM”
“Cuma Allah teh yang bisa ngabulin doa-doa teteh”
Begitulah pesannya yang membuatku sadar bahwa semuanya berjalan
atas izin Allah, pun dengan skripsi ini. Siang harinya sebuah panggilan telfon
dari Abah. Kali ini Abah yang ingin tahu bagaimana keadaan anaknya. Basa-basi
bukan ciri khas Abah, tapi kali ini beda.
Sebelum menanyakan skripsi, Beliau menanyakan hal yang lain hingga
akhirnya tertawa tak jelas, hingga ku potong.
“Gimana skripsinya the? Katanya kelempar kepilihan kelima?”
“Yahh gak gimana-gimana, iya kelempar jauh banget”
“Kamu bisa gak itu di satwa?”
Kali ini ku yang tak bisa menyembunyikan.
“Coba deh bah, anaknya milih satwa di pilihan kelima dari lima
pilihan, berartikan teteh gak pengen dan gak mau disitu” Agak naik pitam.
“Heheeheh iya iya ngerti ngerti. Ya terus mau gimana dong?”
“Yaa mau tetep teteh coba, mau di satwa aja udahlah, masa mau
mundur kaya kemaren lagi”
“Kamu bakalan selesai gak tuh di satwa?” Nadanya sedikit tidak
yakin
“Yaa gak tau, selesia mungkin”
“Yaudah dijalanin aja ya, dinikmati aja, pokonya terserah teteh aja
sekarang mah mau gimana, yang penting selesai skripsinya”
Semenjak penguman ini, orangtua tidak lagi menanyakan soal
kelulusan.
Dari awal pengumuman sampai detik
ini selalu ku cerikan semua proses perjalanan skripsi, mulai dari pemilihan
dosen pembimbing, pemilihan judul yang tertolak terus (sampe sekarang belum
dapet). Hingga akhirnya harus dipertemukan dengan anak-anak seangkatan yang
menyadarkan bahwa You’re so lucky Li. Praktek jurusan, KKN, Praktek umum
Getas pun juga sudah selesai. Tinggal satu porsi skripsi yang sebenarnya sama
saja. Dan aku sadar semuanya sama. Punya porsi masing-masing dalam
menyelesaikan masalahnya. Betapa Allah luar biasanya membuat hambanya sadar
bahwa setiap manusia pun jelas akan diberikan ujian. Salah satunya ini, di
gugurkannya 2 kelompok ini jelas pasti ada hikmahnya bahkan hikmah yang bisa
jadi melebihi apa yang mereka bayangkan.
Adanya aku di Lab.Satwa Liar ini
jelas ada hikmahnya, bahkan aku sampai sekarang pun menanti dengan rasa
penasaran, akan ada hadiah dan hikmah apa setelahnya. Mari kita menantinya
dengan terus mendekatkan diri pada-Nya. Pada Allah yang sebenarnya merindukan
kita untuk terus meminta sembari merengek tanpa henti. Mungkin ini juga cara
Allah menegur, sudah sejauh mana meminta untuk dimudahkan segala urusannya.
Yang jelas-jelas sudah Allah ulangi dua kali dalam surat Al-insyirah, setelah
ada kesulitan pasti ada kemudahan, dan kita hanya perlu meyakini itu.
Percayalah, kita semua akan lulus pada waktu yang tepat….
Terimakasih Amanah, Nabil, Motil, Fira, Bang Apoy, Farnita, dan Si
imut mba Diva.
Bersambung…
Yogyakarta, 23 Maret 2018
Rumah Quran Daarul Falah
Temanmu..

Komentar
Posting Komentar