Langsung ke konten utama

KEPING PUZZLE YANG HILANG


“Tunggu Bapak yah di tempat biasa, Bapak sudah on the way ke Statiun ya Ka, gak bawa HP.” Ponsel berbunyi, pesan singkat yang di kirimkan oleh ibu setelah ku kabarkan jika anak perempuannya sudah sampai di Ibukota, Statiun Pasar Senen. Ku hanya menjawab sekenanya,”Oke baik bu.” Sebelum terkirim sudah masuk pesan dari Ibu “Jangan main HP di dalam KRL ya sebelum ketemu Bapak Ka.” Pesan itu yang hampir tidak pernah ketinggalan setiap kali akan bepergian menggunakan kereta. Maklum, beberapa waktu yang lalu, aku sempat kehilangan, lebih tepatnya di copet di Statiun Jatinegara ketika akan mengikuti sebuah acara di Bogor. Aku sudah merindukan sosok wanita yang seperti bidadari tanpa sayap yang tak pernah berpindah tempat dan menetap di rumah kami.
            Jarum jam yang menggantung di dekat peron KRL menunjukan pukul 17.10 WIB sebentar lagi magrib dan tandanya aku tidak akan mendapatkan tempat duduk di KRL seperti biasanya setiap kali menuju perjalan ke Tangerang. Entah karena seperti anak muda ataupun ibu-ibu yang masih terlihat sangat kuat berdiri sampai statiun akhir. Dan sebenarnya aku juga tidak pernah enak hati setiap kali harus duduk sedangkan wajah-wajah lelah itu berada di hadapan ku tanpa raut senyum sedikitpun dan kadang pula hanya sibuk dengan gadget yang mereka punya. Aku mewajari itu, kadang teknologi bernama Handphone itu mampu memulihkan raga yang sudah lelah selain tidur di KRL.
            Wajah itu mulai menampakan terlihat, seorang laki-laki gagah yang kami miliki dengan berpakaian kaos berkerah dan jaket kulit hitam kesukaannya yang selalu beliau pakai setiap kali berangkat ke pasar dan aku yang kegirangan sambil menenteng tottebag yang berisikan buku dan lainnya yang aku bawa dari perantauan. Senyum kami bertemu. Pak  kaka kangen banget. Mata kami bertemu dan aku hanya melambaikan tangan, beliau senyum dengan tulus dan lega, anak ku sampai. “Assalamu’alaikum” Ucap salam sambil mencium tangan dan kedua pipi kanan dan kirinya, kemudian sambil di jawab sambil membalas mencium pipi kanan dan kiri serta dahi. Iya, aku bahkan tidak pernah malu melakukan itu didepan umum, kadang kami seperti bertemu dengan kekasih sendiri, iya siapa lagi yang patut dijadikan kekasih bagi wanita jomblo ini. Tapi tidak masalah, karena sedari kecil pun aku sudah terbiasa dengan hal ini. “Udah lama nunggu Kaka?” tanya ku sambil menuju ke parkiran motor. Aku sering sekali menanyakan itu pada Bapak, karena Bapak sering menunggu lama setiap kali menunggu di Statiun dan beliau pun hanya menjawab dengan hal yang sama “Gak kok, bentar cuma 2 abad. Hehehe”. Iya begitulah jawabannya dengan bumbu bercanda sereceh uang koin.
            Aku sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya, bertemu dengan bidadariku di rumah dengan menghidangkan masakan favoritku. Mencium tangannya yang hangat dikarenakan khawatir anaknya tidak sampai rumah. Menaiki motor itu adalah cara kami berbagi cerita bagaimana keadaan kota kami dari waktu ke waktu. Setiap pulang ke kampung halaman, kota ini selalu berubah ubah, jalan yang baru, bangunan yang sudah bertambah dan lainnya, terutama orang-orang yang ada didalamnya yang dulu ku tinggalkan masih seperti anak-anak setelah aku datang mereka sudah tumbuh besar menjadi remaja kekinian yang tak karuan. Sampailah pada suatu tempat yang membuat ku penasaran masih adakah kakek tua itu menunggu di pinggir jalan tepat dekat dengan toko sepatu. “Pak nanti pas belokan itu, biasa ya Pak kita beli otak-otak bakar” Seru ku pada bapak yang masih fokus mengendarai sambil memecah kesunyian. “Otak-otak bakar yang Kakek-kakek itu?” Tanya Bapak sambil menengok memastikan. “Ka-ka, masih aja ingat sama Kakek otak-otak bakar itu” tambahnya lagi. Iya Aku memang masih ingat dengan Kakek itu. Aku kangen bertemu wajah yang penuh ketulusan untuk menyambung hidup, seperti mu Pak yang tak pernah mengeluh bagaimana kerasnya kehidupan di pasar untuk mencari nafkah, membiayai sekolah Adik di pesantren dan membiayai Kaka yang sudah harus pensiun dari tempat kuliah.
            “20 yah Kek, di bungkus aja” Sembari memberikannya uang dengan tersenyum, dan beliau membalas dengan senyuman sembari berfikir seperti tidak asing dengan wajahku. Harga 1 otak-otak bakar 2.000, jadi untuk 20 otak-otak bakar 40.000. Sengaja membeli 20, supaya bisa di bagikan kepada saudaranya. Biasanya kami Cuma menghabiskan 10 otak-otak bakar untuk dimakan 3 orang. Bapak memberikan uang kepada ku 50.000. “Gak usah Kek gak usah, ambil aja kembaliannya” Aku bicara sebelum beliau berbicara sembari memberikan uang. Nah itu kenapa Bapak memberikan uang 50.000, supaya sekalian sedekah. Bukan seberapa banyaknya sedekah itu diberikan dan dalam bentuk apa. Tapi seberapa kita berusaha dan ingin untuk terus melakukan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Dengan membeli dagangan yang jarang sekali di lirik oleh pengguna jalan, sebenarnya kita juga sudah melakukan satu bentuk kebaikan kepada orang lain. Maka coba biasakanlah membeli ke tempat-tempat yang jarang dibeli oleh orang-orang kebanyakan. Supaya tiap orang mampu merasakan kenikamatan rezeki walaupun sedikit, tapi mungkin bisa jadi akan tetap terasa besar jika terus disyukuri setiap saat.
            “Assalamu’aikummmm.......” Ucapku keras pada saat datang ke rumah padahal Ibu sudah menunggu di teras rumah. Mencium dan memelukanya sebuah hal yang wajib dilakukan. Dan Beliau pun membalas sebaliknya. Kamar sudah rapi seperti biasanya Aku pulang, makanan tersedia dan Bapak yang biasanya memberikan jasa pijat secara suka rela untuk anaknya. Malam itu hanya baru seperempat kisah yang ku ceritakan sambil makan masakan Ibu dan 10 otak-otak untuk kami makan dan sisanya dibagikan. Malam di tutup dengan air wudhu yang membasahi dimuka dan pijatan ala Bapak sampai membuatku terlelap dalam tidur.
            Adzan subuh berkumandang, terdengar di telinga. Karena mushola tidak jauh dari rumah bahkan ada dua mushola yang jaraknya berdekatan hanya beda status kepemilikan saja. Seperti biasa aku bangun di saat yang lain juga sudah bangun, ku buka pintu belakang arah dapur sudah kutemukan Bapak yang sedang ruku’ rakaat pertama. Aku hanya terdiam dan kemudian tersenyum.
“Sudah sana cuci muka, gosok gigi dan ambil air wudhu dulu” Ibu menepuk bahuku dan berkata lembut supaya tidak mengganggu bapak yang shalat subuh sendirian. Bu betapa Aku senang melihat pemandangan subuh ini, pemandangan yang jarang sekali Aku dapatkan, Aku bersyukur hidayah telah beliau petik meskipun masih malu dan ragu beliau katakan. Sepertinya engkau sangat mengerti Ibu maksud diam dan senyum ku melihat ini.
“Eh iya Bu Aku ambil air wudhu dulu, berjamaah yah Bu” Aku menyahut
Setelah selesai cuci muka, gosok gigi, dan ambil air wudhu Bapak sudah siap untuk berangkat ke Pasar tempat beliau bekerja. Beliau bekerja di salah satu tempat penjualan daging sapi yang cukup terkenal di pasar, biasanya sampai siang hari dan selebihnya mengerjakan apapun yang sekiranya bisa mendatangkan rezeki tambahan hari ini. Bapak tidak punya gaji tetap bahkan tidak pernah kami mendapatkan slip gaji itu seperti apa. Hehehe.
“Kaka gimana kabarnya?” Pertanyaan yang ibu lontarkan setelah berdoa subuh itu.
“Yahhh kaka baik bu. Kenapa kok nanya kaya gitu?” Tanya ku sekenanya.
“Hehe.. Ibu cuma khawatir saja ada yang mengganjal kepulangan mu ini. Seneng lihat Bapak sekarang udah mau shalat nak?”
“ Iya” Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. “Kaka bersyukur banget ternyata pesan yang sering ibu kirim dan memberikan kabar kalau Bapak sudah mau shalat itu memang terjadi betulan.” Iya, Bapak memang jarang shalat, beliau melaksanakan shalat pada saat bulan Ramadhan saja. Beliau meyakini betul bahwa puasa jika tidak di barengi dengan shalat maka puasanya tidak akan di terima dan Bapak tidak ingin itu menjadi sia-sia.
“Tugas kita harus bersyukur tuh kalo Bapak udah mau shalat, sekarang kita hanya perlu mendoakan saja” Ibu mengingatkan.
“Belum lelahkan ngingetin Bapak untuk tetap shalat?” Tanyaku menggoda.
“Hmmmm. Menurut Kaka gimana? Kaka meragukan kesetian Ibu sama Bapak untuk ngingetin Bapak. Inget loh Ka, sebelum kamu lahir berarti yah sudah lebih dari 21 tahun” Jelas Ibu pada anaknya yang suka menggoda.
“Iya iya, Aku becanda loh Bu”
“Iya Ibu tau kok, kamu kan duplikat Bapak, gak ada habisnya godain Ibu”.
Pagi berlalu dengan cepat, hari kedua di rumah aku hanya mampir sebentar ke rumah Bibi, Kakek, dan saudara yang sekiranya jaraknya tidak jauh dari rumah. Dan bertemu beberapa orang yang sekiranya masih mengenaliku. Iya bahkan ada yang masih mengingatku dengan jelas dan menganggapku seperti adiknya Bapak di karenakan muka kami sangat mirip. Hari berlalu tanpa aktivitas yang melelahkan, malam hari ku gunakan untuk menulis sedikit hikmah hari ini yang ku tuangkan di akun tumblr.
“Kaka sekarang kayanya nulisnya makin aktif aja nih?” Tanya Bapak mengagetkan dari belakang
“Hehehe iya Pak, suka aja sih nulis singkat-singkat begini” Jawab ku malu-malu
“Biar bisa dibaca sama dia ya ka?” Ibu menggoda sambil membawakan segelas jus kangkung dicampur dengan kuning telur ayam kampung.
“Hah dia siapa ya?” Bapak keheranan
“Hmmm maksudnya apa ya bu?” Aku pura-pura tidak mengerti dan sambil mengingat-ingat. Aku baru ingat apa yang dimaksud dengan ‘Dia’.
“Ahh Bapak gak mau ikut campur dulu ah masalah beginian, mending nonton Heyy tukang Ojeggg tolong anterin aku” Berlalu sambil menyanyikan lagu sebuah sinetron. Bapak memang tidak terlalu antusias ketika membahas pernikahan, Beliau hanya takut saja anak-anaknya meninggalkannya karena kepatuhan yang akan berpindah. Apalagi Aku yang sudah berumur 21 tahun yang sebentar lagi lulus kuliah dan selebihnya membebaskan diri akan melakukan apa.
“Nih diminum dulu, kamu jarang minum ini lagi kan kalo di Jogja?
“Wahh... jus kangkung telur ayam kampung. Pake madu gak ini?”
“Pake kok sedikit, soalnya madunya tinggal sedikit”
“Gapapa asalkan gak amis banget Bu. Hehehe”
Ibu duduk sereleks mungkin di sampingku.
“Kamu gimana skripsinya?”
Lagi-lagi pertanyaan ini yang dilontarkan dan bukan sebuah keanehan.
“On proses bu, aku udah ambil data kok, tinggal ngerjain selanjutnya aja, InsyaAllah November ini biar aku bisa wisuda” Jelas ku pada Ibu
“Kamu sengaja nunda menikah yah?”
“Waduhh.. Yah gak lah bu” Lagian mau nikah dengan siapa bu, calon saja belum ada. Yang mendekat saja belum ada.
“Kalo memperlambat wisuda berarti juga memperlambat pernikahan juga dong”
Aku hanya tersenyum sekenanya, dan tidak menjawab apa-apa.
“Kamu masih nunggu Ali ka?” Tanya Ibu memecah kesunyian.
Aku berhenti mengetik dan jari ku terjatuh pada huruf A dan L pada saat itu memang ingin mengetik kata ‘Allah’. Aku diam dan berfikir apa maksud Ibu menanyakan ia kembali. Orang-orang yang sampai sekarang belum memberi kabar secara langsung pada ku. Sungguh Bu pertanyaan itu terlalu membingungkan sekarang, kenapa harus kau tanyakan pada saat aku ingin terlepas dari nya. Laki-laki sholih yang belum berani kemana akan berlabuh.
“Gak kok bu” Jawabku singkat
“Ada yang ingin kamu ceritakan sama Ibu?”
“Aku baik-baik aja Ibu, Aku gak lagi mikirin Ali kok” Aku menoleh pada sambil memastikan bahwa putrinya baik-baik saja.
“Kalo Kaka merasa ingin bicara pada Ibu, sampaikan saja yah ka, Ibu mau mendengar bahkan untuk menikah sekali pun, rumah ini sepi Ka kalo gak ada kalian”
“Kan ada Bapak bu”
“Iya kalo Bapak di rumah terus, kalo gak di rumah. Sudah, Ibu pergi dulu yah.” Ibu pergi dengan leganya. Aku hanya mengangguk dan tak membalas apa-apa. Aku hanya mencerna kalimat terakhir yang Ibu sampaikan. Ibu benar-benar sudah mengizinkan ku menikah, kali ini sepertinya lebih serius.
“Ka, Kaka berapa lama liburan di rumah?” Tanya Bapak setelah ku mengambil wudhu untuk beranjak tidur.
“Emmm gak nyampe sebulan  paling Pak, soalnya Kaka ada acara di Fakultas buat jadi pengisi acara mahasiswa berprestasi non akademik gitu” Jelas Ku.
“Oh jadi pengisi acara lagi. Cukuplah untuk nemenin Bapak”
“Kita mau kemana Pak?”
“Ya paling ke Pasar anterin pesenan daging. Hehehe”
“Itu mah udah biasa Pak” Buang nafas cepat.
“Besok bangun lebih pagi nemenin Bapak Shalat subuh ya Ka!”
kali ini mata ku berbinar, ingin rasanya ku teteskan air mata. Tapi aku pantang sekali meneteskan air mata, karena Bapak memang lupa mengarjakan kepada Kami bagaimana rasanya menangis. Bapak tidak suka melihat anaknya menangis baginya itu terlalu membuatnya lemah. Hingga Kami pun sungkan untuk menangis.
“Iyy aaa p a k” Aku menjawabnya melambat.
“Anak Bapak, anak Bapak. Besok kalo Bapak gak ngajak kamu keman-mana kamu minta temenin Ibu aja ya, biar bisa jadi Ibu yang idaman kaya Ibu Hehehe” Mengelus rambut kemudian mencium jidatku dengan maksud menyuruh tidur. Aku hanya mengangguk menuruti apa yang di katakan Bapak pada saat itu, kali ini Bapak sungguh membuatku mengerti betapa Ibu mencintai Bapak. Sosok laki-laki yang penuh tanggung jawab dan cinta kasih untuk keluarga kecilnya yang sekarang ingin belajar menjadi Imam shalat keluarga kecilnya.
Subuh pun tiba, kali ini Bapak benar-benar membuatku semakin mencintainya, andaikan Adikku bisa melihat pemandangan sebelum fajar tiba di rumah kami.
“Rapatkan shafnya” Ujar Bapak kepada Ibu dan Aku.
“Allahu akbar....” Rakaat pertama terselesaikan.
Menuju rakaat kedua, jantung ku berdetak tak karuan. Bapak mungkin sedang ingin menyampaikan doa pada Tuhannya dengan sangat dalam untuk sujud kali ini. Bapak masih belum mengucapkan takbir untuk takhiyat akhir. Aku semakin penasaran dan malah tidak khusu’ karena sujud Bapak kali ini sangat lama. Aku menengok ke depan mengangkat kepala dengan ragu-ragu dan perlahan. Ibu menyebutkan kalimat Subhanallah dengan keras untuk menyuruh Bapak segera takbir untuk takhiyat akhir. Bapak masih tak bergerak. Ku gerakan kakinya, hingga ia tumbang. Aku hanya terdiam tak berkata, cukup diam dan tak berkata apapun, ku tahan kali ini tangis, lagi-lagi ku tahan sebelum akhirnya benar-benar meledak sejadi-jadinya. Ku gantikan posisi Bapak untuk mengucapkan takbir untuk takhiyat akhir.
“Allahu akbar...” Suara rintih seorang anak perempuan yang menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.
Ku dengar isak tangis di belakang sambil terus menyelesaikan shalat.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh....” lirih
Kami hanya menangis kali ini tanpa sepengetahuan Bapak aku menangis sejadi-jadinya memastikan ia benar-benar mendengar, kali ini Aku ingin Beliau mendengar jeritan tangis anaknya yang jarang sekali bahkan tidak pernah menangis di hadapannya...

Kali ini Kami bingung, permainan puzzle yang kami susun serapi mungkin hingga titik terakhir ternyata ada keping yang hilang.... 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANDOM..... IT'S ALL ABOUT YOU #RANDOMTALK

RANDOM -Skalalia- Duri telah berpindah dari tepi batang pohon Jatuh ke tanah setelah melewati fase waktu hembusan angin, suaranya angin tumbang Bukan biji buah yang dengannya menimbulkan generasi baru Apalagi buah jatuhan yang kualitasnya jelas sudah terduga, tubuh ke tanah dan jiwa ke angkasa... Seorang ibu melahirkan seorang anak dengan banyak tarikan nafas Seorang anak tumbuh berkembang   tanpa cacat dengan banyak dorongan tenaga Waktu yang melambat dan di percepat karena ulah manusia Dan tak berjalan mundur dan hari tak akan pernah terulang... Hari buruk datang untuk mengingatkanmu bahwa Tuhan ada kapanpun Untuk meminta-Nya membuat kembali lekukan di bibir, dengan memohon, terisak sesak Tidak percaya pada dunia baru membuat kita keliru, mencari dan akhirnya bosan Terdiam dan melamun setelahnya kau sadar bahwa hidup bukan soal meminta tetapi memberi lebih.. Serupa kegembiraan yang menjeda pada petang itu Tergambarnya langit dengan warna...

ADA IDE YANG MENDESAK INGIN DIEKSPRESIKAN

Selamat pagi, siang, sore, dan malam... Semoga yang menjadi senantiasa diberikan kesabaran atas apapun isi dari tulisan ini.  Perkenalkan nama saya Lia Muslimah. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua saya adalah seorang buruh di Pasar Sepatan dan seorang guru TK dan MDTA di rumah. Saya adalah seorang mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang baru saja menjalani sidang skripsi terkait kukang jawa ( Nycicebus javanicus ) di laboratorium satwa liar. Saya berasal dari sebuah desa di bagian utara kabupaten Tangerang, tepatnya di kecamatan Mauk. Salah satu kecamatan yang termasuk kedalam kecamatan tertinggal dari segi pendidikan. Sedih bukan termasuk ke dalam kecamatan tertinggal. Sejak saya sekolah di bangun sekolah dasar saya sudah mempunyai keinginan untuk kuliah, angan-angan jadi orang yang kuliah dan menjadi orang yang besar. Pikir sempit ku waktu itu. Tapi nyatanya tidak banyak yang akhirnya memiliki pemikiran yang sama untuk kuliah padahal setiap d...

Menantang Diri Lagi???

Menantang Diri Lagi??? Bertemu lagi dengan sabtu malam, di tempat yang sama, dan bukan di asrama tempat ku berdiam diri.  Sangat tidak produktif sekali, menulis tidak lagi menjadi bagian dari prioritas. Padahal tidak hanya satu, dua ataupun tiga ide-ide maupun cerita yang ingin dituangkan dalam tulisan. Sedih sekali rasanya ternyata diri ini masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Sabtu malam ini ingin ku curahkan hati ku, bagaimana bisa anak sekeras ini bisa selemah ini soal percintaan. Menurutku sangat wajar sekali, bahkan harusnya memang bersyukur karena masih bisa merasakan hal seperti ini. Bahkan dengan ini kadang aku jadi belajar bagaimana mengatasi orang-orang yang mengalami hal yang sama. Lalu kamu mau cerita apa kali ini?  Aku mau cerita hal yang sama, yang aku tuju pun sama orangnya. Itu-itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Aku tidak bisa menyebutkan namanya, karena aku pikir semakin hari ke hari sepertinya ini akan menjadi cerita saja. Cerita dari sisa hidup...