Nodong
#Lembarsatwa3
-SkalaLia-
Mata terkantuk-kantuk melihat ponsel yang mulai
berdatangan pesan, padahal sepagi ini. Ku lihat satu persatu pesan yang masuk.
Ku mencari pesan masuk dari orang yang sudah ku tunggu-tunggu sedari kemarin.
Iya, beliau seorang dosen yang insyaAllah akan menjadi dosen pembimbingku
selama penelitian untuk menyelesaikan skripsi di Lab. Satwa liar. Pesan yang ku
kirim sedari kemarin tak terbalas, hingga akhirnya ku kirim kembali pesan yang
ku kirim kemarin. Persis sama tak ada yang dibuang satu huruf pun. Pesan
berbalas selang beberapa menit setelah ku tinggalkan mengambil laptop untuk
membuka pelajaran yang hari ini di-UTSkan.
“Saya
hari ini agak full. Kalua mau jam 8.30”
Begitulah
balasan dari dosen. Aku hanya mengambil nafas dan membuang perlahan sembari
mengeruti dahi. Bingung yang ku dapat. Di hadapkan dengan 2 pilihan, antara menyelesaikan materi UTS
atau bertemu dosen pembimbing. Dan akhirnya keduanya dipilih. Memilih
menyelesaikan dan bertemu dosen pembimbing. 2 hal yang sudah ku tuliskan agenda
yang harus tercentang hari ini.
Ku
balas memastikan bahwa aku akan dating. Kemudian disusul dengan balas pesan
diluar dugaan. Dosen pembimbing sedikit mengingatkan.
“Cara
nanya jangan nodong gitu”
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….
Teriak ku bukan main di ruang tengah asrama. Mengagetkan orang-orang di asrama
dengan pertanyaan yang sama. “Kenapa sih li?” “Ada apa e?”. Aku berlari ke
dapur. Menceritakan dan seraya meminta saran. Panik bukan main.
“Guyss….
Guys… guys “ Mukaku panic
Ku
ceritakan awal kejadian hingga akhirnya mereka hanya mentertawakan, beberapa
ada juga yang terkaget.
“Gimana
dong gimana? Aku harus jawab apa ni?” Aku yang masih bingung untuk mencari
kalimat yang pas supaya tidak ceroboh lagi. Maklum ini kali pertama harus
berbalas pesan dengan dosen. Beberapa memberi saran dan ku gunakan kalimat yang
mereka sarankan. Tak berbalas. Hampir setia melihat isi pesan. Hanya centang
dua tanpa berwarna biru. Hingga akhirnya hanya di baca saja, sudah terlihat dari
2 tanda ceklis berwarna biru. Ku selesaikan materi untuk UTS meskipun dengan
hati yang masih terbata-bata detak jantungnya. Entah fokus atau tidak yang
penting materi sudah sampai pada slide terakhir. Ku sudahi. Ku bersiap diri dan
bergegas ke kampus. Jam tangan dan jam ponsel tidak sesuai, pesimis untuk
bertemu dosen pembimbing. Hingga akhirnya memberanikan diri smebari menunggu
teman untuk memberikan buah naga titipan yang dibelinya lewatku. Berdoa dari
anak pertama hingga anak terakhir, nafas yang cepat sekali berhembusnya. Hingga
akhirnya mengetuk pintu.
Tok..
tok.. tokk. Ku ketuk pelan pintu berkaca tebal buram.
“Tunggu
sebentar dek”
Tubuhku
diam, diam saja, tidak masuk ke dalam kantor beliau, belum ada arahan.
“duduk
dulu aja dek”. Tanda menyuruhku masuk dan duduk.
Aku
duduk sembari berterimasih sudah dipersilahkan.
Tek
tek tek tek tek…. Sangat cepat suara keyboard terdengar. Pak dosen mulai
bangkit dan langsung mengatakan apa kesalahanku. Aku menganggapnya sebagai
sebuah teguran. Setelah teguran itu sampaikan mulaikan ku sodorkan hasil
pekerjaanku dalam 2 lembar log framework yang ku buat sesuai permintaan Pak
dosen.
Sret..
sret.. sret..
Coretan
penanya mulai tertumpakan pada dua lembar hasil pekerjaanku. Pak dosen
menjelaskan, sesekali ku bertanya memastikan. Kali ketiga rancangan judul yang
ku buat. Kali ini lebih baik setidaknya sudah ada log framework yang ku buat.
Meskipun semua isinya hampir belum ada nilainya sama sekali. Semua saran yang
diberikan nyaris tidak aku fahami sepenuhnya.
Waktu
sepertinya berputar terlalu cepat, sesekali ku tengok arloji di tangan,
menunjukan sebentar lagi UTS.
“Gimana
ada yang mau di tanyakan gak?” Tanya pak dosen.
“Emmm
gak ada pak, saya bingung mau tanya apa pak”. Jawabku jujur setengah menyerah.
Payah
sekali memang aku. Belum ada apa-apanya sudah menyerah. Keluhku dalam hati.
“Nah
iya to, itu saya sudah kasih gambarannya rinci”
Aku
hanya mengangguk mengiyakan. Sembari berfikir harus memulai dari coretan yang
mana. Hingga rasanya ingin menyerah saja. Tapi aku baru ingin, tidak ada alasan
yang kuat kenapa harus menyerah dalam penelitian ini, belum dicoba. Ku akhiri
bimbingan ini dengan menanyakan dan meminta maaf atas ketidak sopananku dalam
etika mengechat seorang dosen. Dan ini sangat menyadarkanku. Nasihat yang pak
dosen berikan, menyadarkanku bahwa adab dari seorang mahasiswa kepada Dosennya
sesuatu hal yang perlu. Kita sebagai mahasiswa mempunyai hak untuk diberikan
bimbingan. Tetapi kita juga harus mewajari seorang dosen yang bukan hanya
mengurusi permasalahan satu anak bimbingannya, bahkan bisa jadi seorang dosen
juga mengurusi kepentingan bersama. Setidaknya pagi itu mengajarkan ku hal-hal
teknis yang bisa jadi akan ditemui lagi di masa yang tak terduga.
Ku
pamit. Rasanya sepi dalam ruangan membuatku harus mengakiri pertemuan dengan
pak dosen. berjalan keluar sambil mengucapkan terimakasih dan salam. Ku menuju
ruang ujian. Jelas sudah. Konsetrasiku sempat terganggu. Hanya berdzikir saja
supaya diberikan konsentrasi kembali. Hingga akhirnya aku memilih keluar
setelah mengecek kembali kertas ujianku. Berlari kecil ke rumah Allah di tengah
area fakultas ini. Entah mengapa rasanya sesak sekali. Air matanya mulai jatuh
perlahan. Kali ini benar, manusia memang ada saatnya mengadu, bahkan harusnya
setiap hari.
Ku
bergegas ke Lab. Satwa liar bertemu dengan rekan-rekan satu perjuangan di Lab.
Satwa liar. Berkumpulnya beralasan, ada sedikit banyaknya wejangan dari dosen
kami di Lab. Satwa liar. Berdoalah sepanjang perjalanan, bahwa apa yang baik
menurut-Mu, aku meyakininya. Hingga akhirnya sampailah pada ruangan yang
dituju. Ruangan ini merubaha segala kesedihan yang terbangun, satu motivasi
yang satu bertemu dengan motivasi lainnya membuat gelak tawa manusia yang ada
di ruangan itu. Kadang memang begitulah cara Allah mengembalikan senyuman dan
tawa kepada kita. Benar adanya bahwa tidak ragu membuat makhluknya untuk terus
selalu merasa bahagia. Pun tidak bahagia, karena salah manusia itu sendiri
salah menyikapi suatu masalah. Meskipun akhirnya Aku sekarang mendapatkan tanda
tanya besar lagi. Lanjutkan atau tidak?
Yogyakarta, 03 April 2018
Komentar
Posting Komentar