Langsung ke konten utama

SEDANG TIDAK PERCAYA DIRI


Sedang Tidak Percaya Diri
#LembarSatwa4

Setelah berteriak dalam hati, menghembuskan nafas perlahan, dan akhirnya keluar dengan perasaan campur aduk. Tapi ini barangkali berlaku bagiku saja, anak dengan tingkat emosi yang masih belum bisa dikendalikan dan hanya punya celah sedikit tingkat kesabaran dari orang kebanyakan. Kisah ini pun berakhir drama. Semua terasa seperti berat sekali, padahal itu hanya permulaan untuk menuju ke tahap selanjutnya dalam pembuatan proposal skirpsi. Naas mental hanya sampai 3 kali ucapan salam kemudian pergi. Seperti tertolak betulan. Hampir ditunda beberapa minggu. Dan kemudian bertemulah dengan ujian tengah semester yang semakin tidak ingin melajutkan, alibi katanya ingin fokus pada ujian tengah semester terlebih dahulu.
Ujian tengah semester berlalu, pulang ke rumah katanya ide yang menarik. Tawaran pulang ini sudah beberapa kali disampaikan oleh Ibu di rumah semenjak pengumuman laboratorium di mana aku akan penelitian untuk skripsi. Mungkin seorang Ibu memang tahu betul bagaimana kondisi hati anaknya kala itu. Mengeluh saja sudah jelas betul bahwa anaknya memang sedang tidak baik-baik saja. Ku putuskan pulang setelah ujian tengah semester selesai, 4 hari di rumah cukuplah menurutku. Semua dipersiapkan terutama mental, mental untuk menjawab semua pertanyaan mengenai perkembanganku, entah itu skripsi, kapan lulus dan “sudah punya calon belum?”. Pertanyaan yang amat random dan entah kenapa akan terus ada dengan pertanyaan “kapan?”. Mungkin akan merasakan setelah semester akhir, setelah lulus, setelah menikah, setelah punya anak dan sebagainya, pertanyaan kapan akan selalu dipertanyakan.
Pulanggggggggg!!!! Kamis pagi, kereta berangkat jam 07.00 WIB. Kupersiapkan segalanya, membeli bekal di statiun untuk bekal di perjalanan. Lagi-lagi mengganjal perut dengan ayam goreng dan 2 roti maryam dan air bening di dalam tumblr bening bertutupkan pink. Menikmati perjalanan dengan makan, tidur, dan menulis. Menulis salah satu hal terbaik meluapkan emosi. Lakukanlah hal yang bermanfaat supaya selama 8 jam tidak terasa sia-sia. Jangan tinggalkan ibadah kalian ketika di dalam kereta, karena di dalam kereta pun kita masih bisa melakukan itu semua. Kali ini kereta sampai terlambat, sekitar 45 menit.
Bertemulah dengan seorang pria terganteng satu-satunya di rumah. Abah panggilannya. Seperti biasanya salaman, peluk cium kiri kanan. Kami berdua pulang dengan santai, tidak begitu ngebut di perjalanan, dan tidak lamban pula. Menikmati setiap asap, dan terik senja yang mulai muncul sore itu. Kota ini akan tetap indah bagi pribumi macam ku ini. Sampai pada pertigaan Pasar Sepatan biasanya Abah suka sekali menanyakan  ini “Mau beli apa?” Iya sejenis makanan yang bisa dibawa pulang untuk dimakan bertiga. Biasanya kami Cuma beli 2 porsi bakso untuk dimakan tiga orang. Entah karena rasanya kenyang meskipun porsi harus dimakan dengan orang banyak. Jadi ingat kebiasaan kami, Abah sering sekali membeli sesuatu seperti Bakso atau sejenisnya yang kemudian dimakan berempat, aku, adik, Ibu dan Abah. Biasanya beliau cuma makan sisanya, kuah baso.
Sampailah di rumah, ku lihat lambat-lambat wajah Ibu, yang Aku sadari bahwa mulai ada kerutan di wajahnya. Sedih rasanya ketika memeluknya ketika bertemu seperti ini. Ku taruh tas jinjing yang sedari tadi di statiun pasar senen tidak ku lepas, rasanya seperti sudah menempel dipunggung. Pegal luar biasa. Langsung ku ambil air minum, mengistirahtkan badan, mandi supaya lebih nyaman ketika tidur. Memakan masakan favorit Ibu ketika pulang adalah hal yang wajib. Enak banget....
Hari pertama di rumah tidak banyak pertanyaan yang bermunculan, 4 hari di rumah pertanyaan seputar wisuda dan menikah adalah pertanyaan yang sepertinya wajib dipertanyakan. Jumat, makan malam kami di ruang belakang. Dengan segelintir pertanyaan acak. Ibu memulai dengan pertanyaan seputar jodoh, yang hampir aku putus ada sebenarnya. Menyukai seseorang adalah sebuah hal yang salah menurutku jika kita tidak bisa bertanggungjawab dengannya. Bertanggungjawab terhadap hati yang mungkin saat itu tidak siap menerima kenyataan yang sebenarnya. Kadang benar adanya egolah yang membuat semuanya tidak jelas. Sejujurnya untuk masalah menikah, Ibu pribadi sudah mengizinkan dari jauh-jauh hari. Tapi memang karena belum ada niatan, ya gak akan Allah kasih pula jalannya. Pada akhirnya soal menikah dan jodoh itu sesuatu hal yang nyata pula. Nyata terjadi dan nyata tidak terjadi. Bisa jadi maut lebih menjemput lebih dulu daripada jodoh yang datang.
Lain Ibu lain Abah, Ibu yang sedari awal memang sudah tahu mengenai kondisi skripsiku tidak menanyakan hal itu lagi. Abah yang ingin tahu cerita jelasnya dari sumbernya langsung. Abah bertanya mulai dari persediaan uang, hafalan ku yang sudah sampai juz berapa dan akhirnya menanyakan bagaimana skripsinya. Ku ceritakan dari awal. Sejujurnya tidak ingin bercerita, karena hal itu akan mengingatkan kepada keluhan-keluhan yang melelahkan. Salahnya manusia adalah suka menceritakan berulang-ulang kali masalahnya, hingga akhirnya kita sendirilah yang tersugesti bahwa masalah yang kita dapat akan terus memburuk, kita terikat oleh keluhan-keluhan yang kita buat sendiri dan itu menyedihkan. Abah hanya mengambil nafas sesekali sembari berbaring dan berfikir. Ku rasa Abah pun sama sedihnya. Akhirnya perkataannya terulang “Yaudah, dijalani ajalah teh, mau gimana lagi harus tetep dijalani”. Aku mengiyakan sembari mengangguk. Aku juga meyakinkan bahwa Aku akan bertahan di tempat yang sama, tak ingin terulang seperti sebelumnya.
Perbincangan kami selesai, rasanya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi kepada anaknya, cukup dengan mendoakan yang terbaik saja. Tapi tidak berhenti sampai disitu, saudara-saudara, nenek, kakek yang tahu betul tahun 2018 tahun di mana aku harus wisuda. Aku harus memulai menjawab dengan hati-hati dan mengerti, jika sudah lelah dan bosan menjawab, ku biasakan dengan meminta doa kepada semuanya, entah karena ku yakin takdir dan doa selalu berjalan beriringin bahkan berebutan sampai akhirat. Doa adalah salah satu hal yang bisa mengubah sebuah takdir, bisa jadi hari ini sakit dan kemudian aku terus-menerus berdoa, seketika itu pula bisa jadi Allah menyembuhkanku dengan doa yang terus-menerus.
Lucunya adalaha ada beberapa orang yang sekedar menyapaku dan berlalu sembari meneriaku ku “Cepetan wisudaaa..”. Hehehe, sebegitunya memang kasih sayang seseorang terhadap kerabatnya. Semoga saja orangtua diberikan kesabaran ketika  menerima pertanyaan yang serupa, diberikan kehusnudzonan kepada para warganet (Maklum Ibu pengguna sosial media), masyarakat dan lainnya. Pada akhirnya semuanya terjadi secara random. Aku adalah calon sarjana kehutanan, calon istri seseorang, dan calon almarhum. Ketiganya terjadi secara acak, entah akan jadi sarjana dulu, jadi seorang istri dulu atau bisa jadi tidak menjadi keduanya kemudian ajal cepat menjemput lebih dulu.


Yogyakarta, 25 April 2018















Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANDOM..... IT'S ALL ABOUT YOU #RANDOMTALK

RANDOM -Skalalia- Duri telah berpindah dari tepi batang pohon Jatuh ke tanah setelah melewati fase waktu hembusan angin, suaranya angin tumbang Bukan biji buah yang dengannya menimbulkan generasi baru Apalagi buah jatuhan yang kualitasnya jelas sudah terduga, tubuh ke tanah dan jiwa ke angkasa... Seorang ibu melahirkan seorang anak dengan banyak tarikan nafas Seorang anak tumbuh berkembang   tanpa cacat dengan banyak dorongan tenaga Waktu yang melambat dan di percepat karena ulah manusia Dan tak berjalan mundur dan hari tak akan pernah terulang... Hari buruk datang untuk mengingatkanmu bahwa Tuhan ada kapanpun Untuk meminta-Nya membuat kembali lekukan di bibir, dengan memohon, terisak sesak Tidak percaya pada dunia baru membuat kita keliru, mencari dan akhirnya bosan Terdiam dan melamun setelahnya kau sadar bahwa hidup bukan soal meminta tetapi memberi lebih.. Serupa kegembiraan yang menjeda pada petang itu Tergambarnya langit dengan warna...

ADA IDE YANG MENDESAK INGIN DIEKSPRESIKAN

Selamat pagi, siang, sore, dan malam... Semoga yang menjadi senantiasa diberikan kesabaran atas apapun isi dari tulisan ini.  Perkenalkan nama saya Lia Muslimah. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua saya adalah seorang buruh di Pasar Sepatan dan seorang guru TK dan MDTA di rumah. Saya adalah seorang mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang baru saja menjalani sidang skripsi terkait kukang jawa ( Nycicebus javanicus ) di laboratorium satwa liar. Saya berasal dari sebuah desa di bagian utara kabupaten Tangerang, tepatnya di kecamatan Mauk. Salah satu kecamatan yang termasuk kedalam kecamatan tertinggal dari segi pendidikan. Sedih bukan termasuk ke dalam kecamatan tertinggal. Sejak saya sekolah di bangun sekolah dasar saya sudah mempunyai keinginan untuk kuliah, angan-angan jadi orang yang kuliah dan menjadi orang yang besar. Pikir sempit ku waktu itu. Tapi nyatanya tidak banyak yang akhirnya memiliki pemikiran yang sama untuk kuliah padahal setiap d...

Menantang Diri Lagi???

Menantang Diri Lagi??? Bertemu lagi dengan sabtu malam, di tempat yang sama, dan bukan di asrama tempat ku berdiam diri.  Sangat tidak produktif sekali, menulis tidak lagi menjadi bagian dari prioritas. Padahal tidak hanya satu, dua ataupun tiga ide-ide maupun cerita yang ingin dituangkan dalam tulisan. Sedih sekali rasanya ternyata diri ini masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Sabtu malam ini ingin ku curahkan hati ku, bagaimana bisa anak sekeras ini bisa selemah ini soal percintaan. Menurutku sangat wajar sekali, bahkan harusnya memang bersyukur karena masih bisa merasakan hal seperti ini. Bahkan dengan ini kadang aku jadi belajar bagaimana mengatasi orang-orang yang mengalami hal yang sama. Lalu kamu mau cerita apa kali ini?  Aku mau cerita hal yang sama, yang aku tuju pun sama orangnya. Itu-itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Aku tidak bisa menyebutkan namanya, karena aku pikir semakin hari ke hari sepertinya ini akan menjadi cerita saja. Cerita dari sisa hidup...