Langsung ke konten utama

SEPERTI BUANG AIR


SEPERTI BUANG AIR?
#lembarsatwa2
-SkalaLia-

Kadang ada beberapa matakuliah yang gak di sukai mahasiswa. Kadang ada juga mahasiswa yang tertarik dengan matakuliah tertentu tapi gak diambil dikarenakan dosennya yang gak enak. Ada juga yang ngambil matakuliah sengasalnya karena teman-temannya ngambil. Ada juga mahasiswa yang ngambil matakuliah karena dosennya auto A. Dan Aku salah satu mahasiswa yang selalu ngambil matakuliah karena cuma itu yang bisa diambil untuk KRS (Kartu Rencana Studi), selebihnya kelas penuh dan jamnya gak sesuai. Aku memang lebih suka kuliah jam 09.00 dan mengabaikan matakuliah yang bertengger di jam 07.00 pagi.
Obrolan itu berawal dari satu matakuliah yang ku ambil. Yang sebelumnya sudah tidak di rekomendasikan oleh teman-teman. Tapi jujur saja, untuk matakuliah ini sebenarnya berguna pasca kampus. Tugas kelompok yang kedua ini dikerjakan sekali duduk. Hingga akhirnya datanglah sekumpulan orang lain mendekati kelompok kami untuk menanyakan apa yang sedang kami kerjakan. Hilal namanya, ketua FORESTATION KSDH pada zamannya. Anak yang bisa dikategorikan cerdas menurutku, dengan rambut setengah berantakan. Ia menanyakan bagaimana skripsiku. Sebelumnya ia memberikan referensi mengenai judul pertama yang sempat aku ajukan kepada dosem pembimbing yang kemudian tertolak dengan sangat halus. Sekarang rasanya sedikit lelah melihat ekspresi orang-orang yang terkadang mendengar kegagalan pengajuan judul skripsi dan atribut lainnya yang berbau skripsi. Dan kali ini malah Aku yang tidak lelah bercerita. Sengajaku lakukan supaya setiap kalimat yang ku ucapkan barangkali bisa menyadarkan diri kita sendiri dan orang lain bahwa semua akan selesai dan baik-baik saja. Iya benar, skripsi memang menjadi momok terberat seorang mahasiswa tingkat akhir katanya.
Dari obrolan sebentar itu muncul obrolan baru dengan orang yang berbeda. Kali ini anak yang membuatku bersyukur setelah mendapat kabar yang tidak mengenakan bagi kelompok mereka. Diva namanya, wanita imut berkecamata, dengan frame hitam, berkerudung segiempat yang ujungnya tertempel pada kiri dan kanan bahunya. Memulai yang pertanyaan yang bisa jadi sebuah basa-basi untuk obrolan selanjutnya.
“Gimana li, skripsimu?”
Ku hentikan kerja jari ku di atas keyboard laptop.
“Emmmm… gak gimana-gimana hehehe…” Balasku sekenanya.
“Gak ada yang pengen kamu ceritain gitu li?”
“Mau cerita apa coba, orang gak ada yang perlu diceritain”
“Yah, apa gitu, kaya kamu gak ada kabar apa-apa. Tanggal 29 ikut kan?”
Tanggal 29 ada kumpul semua mahasiswa bimbingan skripsi yang ada di lab.satwa liar.
“InsyaAllah ikut kok, ikut ikut ikut..”
Jawabanku diawal memang seperti tidak meyakinkan Diva, bahwa Aku benar-benar akan tetap lanjut di lab. Satwa liar.
“Li, gimana yah caranya IKHLAS?
Pertanyaan yang terucap tadi sedikit membuatku mendekat, mengingkirkan laptop dan ditinggalkan oleh teman sekelompok karena mereka memeilih ke tempat yang ada stopkontaknya (laptop untuk mengerjakan tugas low battery).
“Emmm gimana ya..” suaraku memelan. Diva pun bercerita mengenai kejadian kemarin. Mulai dari sedih karena setiap membuka desktop yang terlampir berisikan laporan praktek jurusan dan lain sebagianya. Kemudian aku menanyakan dengan detail kenapa dan siapa? Diva pun menceritakannya, dan aku memahaminya. Lagi-lagi ia bilang padaku, bahwa aku beruntung. Dan menyemangatiku untuk tetap berada di Lab. Satwa liar. Diva juga bertanya harus bagaimana untuk bisa mengikhlaskan. Aku pun bercerita bagaimana harus mengikhlaskannya, dengan kalimat yang mudah dipahami.
“Sebenarnya kita itu dihadapkan dengan hal yang sama. Kamu dengan Praktek jurusan aku dengan skripsiku. Tapi ya.. mau gimana lagi, harus tetep di lanjutin, masa mau kaya tahun kemarin”.
“Aku bisa gak ya Li, November lulus?” pertanyaan sedikit pesimis.
Dan untungnya Diva bertanya pada orang yang sama-sama pesimis, katanya semakin banyak orang yang pesimis semakin banyak pula kekuatan mereka untuk bangkit.
“Bisa kok bisa, ke kejar lah. Bisa kok…” aku meyakinkan.
“Div, gini deh, sekarang mah kita nargetin bulan kelulusan satu aja. Kalo bertekad November ya November, gak usah pake embel-embel ‘atau’. November atau Febuari. Itu semakin buat kita pengen ngulur-ngulur waktu” Jelas Aku
“Iya sih bener” sambil mengangguk.
Kemudian pertanyaan lain muncul, bagaimana akhirnya seseorang bisa ikhlas? Semua jawabannya jelas ada pada diri kita. Ingin tersakiti oleh perasaan kita sendiri atau tidak. Sebeneranya semua ujian itu jelas ada hikmahnya. Hikmahnya akan dating setelah kita mampu memberikan ruang ikhlas seikhlas ikhlasnya. Aku juga pertama kali menerima hasil yang tidak sesuai harus nangis dulu, harus ngediemin dulu sambil berfikir dan berdoa. Seharusnya ketika ditimpa masalah kita langsung beristigfar. Barang jadi, semuanya karena ulah kita sendiri. Ikhlas itu kaya kita buang air, ditahan sakit, dikeluarin lega. Maaf ya perumpaannya ini. Iya ditahan sakit, bahkan bisa menimbulkan penyakit. Sama kaya ujian, ditahan sendirian juga bikin sakit kalo gak dibagi sambil minta solusi. Dibaginya sama Allah, terus ke teman yang sekiranya bisa jaga rahasia.
Banyak cara supaya kita ikhlas dan bersyukur, coba deh keliling UGM, atau keliling jogja menjelang sore dan menjelang malam. Mesti banyak deh, orang-orang yang ternyata tidur dipinggir jalan. Lah kit amah enak, tidur di kos, pake Kasur, bangun tinggal bangun. Bahkan Allah aja menfasilitasi kita supaya kita bisa ikhlas, salah satu fasilitasnya dengan shalat tahajud. Tahajud kan salah satu ibadah yang di anjurkan setelah shalat wajib. Coba bayangin ada hamba yang mau bangun cuma buat shalat malam, ngerengek ke Allah supaya diberikan keikhlasan. Dan yakinlah bahwa Allah suka banget sama doa-doa yang bentuknya meminta dan mengemis ke Allah.
Pada akhirnya semua kisah cerita perkampusan kita akan selesai Diva, skripsi kita akan selesai. Praktek jurusanmu juga sama. Dulu zamanku Praktek jurusan, kelompokku lah yang paling lama menyelesaikan laporan. Harus revisi dan revisi, sampe Ibuku saja bosan bertanya pada anaknya, kenapa belum selesai juga. Tapi akhirnya selesai juga dengan hasil yang memuaskan. Ikhlas itu pasrah sama apa yang Allah putar setiap episodenya, sama ketika kamu bilang “Aku sih sebenarnya gapapa deh li dapet C juga”. Itu juga sudah sebuah kepasrahan sudah kamu mulai. Tapi kamu tidak sadar. Iya, kadang kita tidak pernah menyadari sesuatu hal yang amat dekat dengan kita.

Ini kisah disebuah Joglo Fakultas Kehutanan dengan bangunan yang hampir semuanya tersusun atas kayu. Semakin syahdu, hanya kami berdua yang secara tidak langsung sedang berbagi.
Terimasikah Diva….
Temanmu

Yogyakarta, 28 Maret 2018
Fakultas Kehutanan UGM
Lia Muslimah



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANDOM..... IT'S ALL ABOUT YOU #RANDOMTALK

RANDOM -Skalalia- Duri telah berpindah dari tepi batang pohon Jatuh ke tanah setelah melewati fase waktu hembusan angin, suaranya angin tumbang Bukan biji buah yang dengannya menimbulkan generasi baru Apalagi buah jatuhan yang kualitasnya jelas sudah terduga, tubuh ke tanah dan jiwa ke angkasa... Seorang ibu melahirkan seorang anak dengan banyak tarikan nafas Seorang anak tumbuh berkembang   tanpa cacat dengan banyak dorongan tenaga Waktu yang melambat dan di percepat karena ulah manusia Dan tak berjalan mundur dan hari tak akan pernah terulang... Hari buruk datang untuk mengingatkanmu bahwa Tuhan ada kapanpun Untuk meminta-Nya membuat kembali lekukan di bibir, dengan memohon, terisak sesak Tidak percaya pada dunia baru membuat kita keliru, mencari dan akhirnya bosan Terdiam dan melamun setelahnya kau sadar bahwa hidup bukan soal meminta tetapi memberi lebih.. Serupa kegembiraan yang menjeda pada petang itu Tergambarnya langit dengan warna...

ADA IDE YANG MENDESAK INGIN DIEKSPRESIKAN

Selamat pagi, siang, sore, dan malam... Semoga yang menjadi senantiasa diberikan kesabaran atas apapun isi dari tulisan ini.  Perkenalkan nama saya Lia Muslimah. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua saya adalah seorang buruh di Pasar Sepatan dan seorang guru TK dan MDTA di rumah. Saya adalah seorang mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang baru saja menjalani sidang skripsi terkait kukang jawa ( Nycicebus javanicus ) di laboratorium satwa liar. Saya berasal dari sebuah desa di bagian utara kabupaten Tangerang, tepatnya di kecamatan Mauk. Salah satu kecamatan yang termasuk kedalam kecamatan tertinggal dari segi pendidikan. Sedih bukan termasuk ke dalam kecamatan tertinggal. Sejak saya sekolah di bangun sekolah dasar saya sudah mempunyai keinginan untuk kuliah, angan-angan jadi orang yang kuliah dan menjadi orang yang besar. Pikir sempit ku waktu itu. Tapi nyatanya tidak banyak yang akhirnya memiliki pemikiran yang sama untuk kuliah padahal setiap d...

Menantang Diri Lagi???

Menantang Diri Lagi??? Bertemu lagi dengan sabtu malam, di tempat yang sama, dan bukan di asrama tempat ku berdiam diri.  Sangat tidak produktif sekali, menulis tidak lagi menjadi bagian dari prioritas. Padahal tidak hanya satu, dua ataupun tiga ide-ide maupun cerita yang ingin dituangkan dalam tulisan. Sedih sekali rasanya ternyata diri ini masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Sabtu malam ini ingin ku curahkan hati ku, bagaimana bisa anak sekeras ini bisa selemah ini soal percintaan. Menurutku sangat wajar sekali, bahkan harusnya memang bersyukur karena masih bisa merasakan hal seperti ini. Bahkan dengan ini kadang aku jadi belajar bagaimana mengatasi orang-orang yang mengalami hal yang sama. Lalu kamu mau cerita apa kali ini?  Aku mau cerita hal yang sama, yang aku tuju pun sama orangnya. Itu-itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Aku tidak bisa menyebutkan namanya, karena aku pikir semakin hari ke hari sepertinya ini akan menjadi cerita saja. Cerita dari sisa hidup...