Mager (Malas Gerak) Sedikit
#LembarSatwa5
Males ah..
Capek..
Nanti dulu lah ya..
Tunggu.. tunggu.. bentar lagi ni..
Ucapan-ucapan
di atas salah empat yang tetap ada anak pinaknya. Itu hanya segelintir ungkapan
orang-orang yang pada saat itu hatinya sedang diliputi hawa nafsu. Saya juga
bisa jadi adalah orang didalamnya yang tidak pernah lepas dari mereka. Malas,
satu kata yang tidak mungkin lepas dari manusia. Segala bentuk kejahatan dan
keburukan tidak akan lepas dari diri manusia. Malas gerak adalah anak dari
malas yang tingkatannya bisa jadi tidak dikategorikan dalam kategori biasa.
Kita mungkin pernah seperti ini, bahkan dari waktu 24 jam itu berapa kali kata
malas terucapkan. Entah malas beribadah, malas kuliah tepat waktu, malas
ngerjain revisi skripsi dan masih banyak lagi. Dan saya adalah orang yang
sedang malas melakukan itu di suatu pagi.
Pagi
adalah waktu yang paling cocok untuk memikirkan suatu hal yang amat serius,
mengerjakan hal yang lebih bermanfaat. Tapi pagi juga menawarkan suasana yang
katanya nikmat yaitu tidur setelah subuh atau tidur tanpa harus shalat subuh,
kalau ini semoga tidak ditiru. Setiap orang selalu punya makna tentang pagi,
tergantung suasana hati. Tapi sepertinya bagi mahasiswa semester akhirnya
selalu punya deadline menulis revisian skripsi dan anak cicitnya.Dan pagi juga sesuatu hal yang ingin dilupakan sejenak.
Malas gerak yang tak karuan kadang bisa membuat kita tidak ingin bangkit dari
lembutnya selimut dan empuknya bantal-bantal yang kita punya.
Pagi
itu masih dengan kemageran yang luar
biasa dengan perut lapar berbisik dan tidak ingin keluar rumah hanya untuk
memenuhi panggilan laparnya perut. Selang beberapa menit, muncullah rasa ingin
memenuhi kebutuhan, kali ini jelas kebutuhan. Bangkit dan bergegas, sembari
memastikan adakah teman-teman yang ingin menitip makanan. Jelas Iya. Saya
keluarkan sepeda motor, mengendarai sepeda motor ditemani teman asrama. Dalam
perjalanan tidak banyak bicara hanya banyak merenungnya melihat keadaan jalan
pagi ini.
Sesampainya
di temapat bubur ayam Jakarta langganan saya, saya parkirkan motor. Membeli 2
bubur ayam lengkap dengan 2 tusuk sate usus dan 1 tusuk sate ayam. Lengkap
sudah kebutuhan pagi ini. Kami pun bergegas pulang. Selama perjalanan saya
merasa waktu terasa melambat, perjalanan pulang lebih lama dari berangkatnya
kami ke tempat tadi. Sekitar 100 meter sudah saya dapati seorang Ibu-ibu dan
anak-anaknya yang berada di pinggir jalan yang sedang membawa gerobak sampah,
yang entah dibuat seperti tempat tinggal mereka. Diambilnya barang-barang
rongsokan yang masih layak dikumpulkan untuk dijual, entah tersentuh saja
melihat pemandangan sepagi ini. Selang beberapa meter seorang Ibu lebih
tepatnya sudah bisa disebut seorang nenek sedang mengambil sampah di tempat
sampah mencari-cari, wajahnya yang keriput dan kulit yang seperti terbakar
setiap hari terkena sengatan sinar matahari membuatnya hampir cokelat legam.
Entah saya yang terlalu berlebihan, tapi saya merasa tertampar hari ini. Allah
maha baik sekali dan sangat santun sekali mengingatkan hambanya. Kadang
bersyukur sekali harus punya hati yang kadang baperan melihat hal-hal seperti ini.
Sesampainya
di asrama, saya sedikit menyendiri di kamar setelah selesai sarapan. Bubur ayam
dimakan berempat orang membuat saya cepat kenyang. Itulah nikmatnya berbagi,
kita akan merasa kebutuhan kita tetap terpenuhi walaupun mungkin porsinya
berkurang. Menyendiri di kamar sembari merenung dan bertanya. Sudah sampai mana
proposal skripsinya, sudah berani menghadap dosen pembimbing skripsi atau belum?
Jadi bagaimana, masih ingin menunda-nunda, sedangkan ujian akhir semester genap
ini akan segera menghampiri, yang artinya semester 8 akan cepat berakhir.
Kenapa harus mendzalimi diri sendiri, orangtua dan almamater? Bukankah semakin
ditunda semakin banyak pula beban orangtua untuk membayar UKT mu di semester
depan padahal ada adikmu yang masih harus dibiayai sekolahnya. Bukannya kamu
tahu bahwa kebutuhan adikmu melebihi kebutuhan kuliahmu? Semuanya
dipertanyakan. Kamu sudah bersyukur belum hari ini? Sudah ingat orangtua belum?
Semua
pertanyaan bergulat dalam hati, saya berfikir bagaimana ada seorang Ibu dan
anak-anaknya yang setiap hari harus mencari barang rongsokan untuk bisa makan
sesuap nasi. Padahal saya adalah anak yang bisa dikatakan bisa terpenuhi kalau
soal makan, tidak harus mencari barang rongsokan dulu. Saya jadi ingat
bagaimana Abah harus berangkat pagi setelah subuh ke Pasar untuk mencari
nafkah, mengantar pelanggan dengan sepeda motor bebeknya. Jadi ingat bagaimana
Ibu yang setiap hari harus membersihkan TK sendirian sebelum dipakai untuk
beraktifitas oleh anak-anak muridnya, mengurusi pekerjaan rumah sendirian dan
lainnya. Jadi ingat bagaimana seorang Abah yang kadang tidak mengeluh sehabis
pulang kerja di pasar padahal saya bisa
merasakan sendiri bagaimana pekerjaan Abah di pasar, seorang tukang Ojeg yang
sebelumnya harus menjadi penjagal daging di lapak orang lain di pasar,
melelahkan.
Sekarang
jadi berfikir, lebih sadar sekali. Setiap kemageran
yang kita lakukan sebenarnya kita sedang berada dalam perangkat setan, sedang
ditipu oleh setan untuk tetap bermalas-malasan. Melawan hawa nafsu itu perlu
bahkan bukan hitungan penting lagi. Setiap orang khususnya mahasiswa tingkat
akhir harus lebih berprogres entah itu cuma liat jurnal, atau buka sembari
dibaca kembali proposal penelitian dan lainnya, ya meskipun sampai sekarang
juga masih bergulat dengan BAB I. Berada di posisi sebagai anak Lab. Satwa liar
yang bisa dibilang Newbe adalah
sesuatu hal yang menyebalkan awalnya. Tapi itu semua selesai ketika kita juga
bisa menerima itu dengan segala keikhlasan, kita sudah berdamai dengan diri
kita. Ngapain saya harus berlama-lam berada dalam kantung kegagalan padahal
saya bisa melewatinya. Setan itu suka sekali kepada anak cucu Adam yang
bermalas-malasan. Makanya semakin kita tidak beribadah (Mengerjakan skripsi),
mereka akan semakin senang. Setidaknya kerjakan dan bergerak. Apapun bentuknya
yang sekiranya tidak menjatuhkan kita pada jurang yang menyesatkan.
Saya
selalu senang melihat anak-anak Lab. Satwa liar yang begitu serius ketika
menyelesaikan proposal skripsinya. Contohnya Hilal yang sangat berprogres,
Rico, Nabil, Dede, Abid, Dewi dan Restu. Mereka punya kesenangan tersendiri
terhadap satwa liar. Mereka saja bisa menyenangi sawta liar, lalu kamu? Berfikirlah
Lia, bahwa berada di sini bukan sesuatu hal yang membosankan. Tantanglah
dirimu... sekali lagi lawan hawa nafsunya...
Yogyakarta,
6 Mei 2018
Komentar
Posting Komentar