Nikah Pas Lagi Skripsian??
#LembarSatwa6
Skalalia
Yang kemudian terlintas dalam pikirannya mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi. Bukan sedang butuh tambahan motivasi, tapi sebuah ketakutan seorang Ibu yang katanya menunda menyusun skripsi berarti menunda kelulusan dan itu sama saja memperlama pernikahan. Jadi keingat beberapa bulan lalu sempat menuliskan sebuah tulisan tentang menikah. Sedikit menuliskan sebuah rangkaian kalimat yang semoga tidak menye-menye untuk para pembaca budiman. Bolehkah menikah ketika sedang kuliah? Ya, jelas gak boleh. Menikahlah ketika sudah selesai jam kuliah selesai. Karena menikah ketika kuliah masih ada Bapak/Ibu Dosen yang sedang mengajar, maka hormatilah.
-Marriage by Design-
Tulisan ini akan saya buka dengan pertanyaan, “Berapa umur kalian sekarang dan akan menikah di umur berapa tahun?”
Wajar rasanya jika Saya menuliskan hal tentang pernikahan, bahkan bukan menjadi hal yang tabu. Menikah muda adalah sebuah takdir Allah. Hal itu sah-sah saja hukumnya selama sesuai dengan syari’at Islam. Adapun menurut perundangan-undangan ada beberapa ketentuan seseorang boleh menikah. Salah satunya adalah masalah umur. Tapi kali ini Saya tidak akan membahas masalah ketentuan-ketentuan atau panduan dalam menikah muda. Bukan, bukan ke arah yang seperti itu tulisan ini dimuat.
Hari ini Saya baru saja mendapatkan ilmu mengenai pernikahan bahkan mendesign sebuah pernikahan untuk masa depan rumah tangga supaya mencapai kata-kata ini: Sakinah, Mawadah, wa Rahmah. MasyaAllah bukan ketika harus mengucapkan hal tersebut. Penulis belum menikah, jadi seperti kurang afdol jika harus membahas satu persatu kata-kata yang diatas.
Fenomena menikah muda bukanlah sesuatu hal yang tabu. Bahkan dalam Islam saja tidak mengenal istilah remaja dan lain sebagainya yang membatasi seseorang untuk menikah. Orang-orang yang menikah muda tentu adalah orang-orang yang bisa jadi memang sudah siap dengan segala risiko yang nantinya akan terjadi. Bisa jadi orang-orang yang menikah muda memang sudah mempersiapkan sebuah rencana di masa depan tentang kehidupannya setelah menikah. Banyak hal yang menyebabkan seseorang menikah, salah satunya adalah butuhnya penjagaan dan semangat ketika lagi skripsian #eeaaa, biasanya hal ini yang terlontar dari para perempuan, mereka membutuhkan penjagaan dan semangat. Biasa banget sih sebenarnya. Tapi sebenarnya tidak hanya perempuaan saja yang membutuhkan penjagaan tetapi para lelaki juga membutuhkan yang namanya melampiaskan yang hal inilah yang tidak bisa di gantikan oleh siapapun kecuali istrinya. Misalnya, sebuah pekerjaan rumah bisa jadi dikerjakan nanti jika rasa malas itu tumbuh. Jika ingin makan, istri belum masak, bisa saja beli makanan di warung-warung yang ada, tetapi jika hasrat seorang laki-laki ingin terpenuhi maka siapa yang harus memenuhinya jika bukan seorang istri. Hal ini juga berhubungan dengan kata Sakinah yang artinya memberikan ketenangan, ketentraman. Tetapi bisa juga diartikan Pisau. Maksudnya pisau adalah alat yang mengontrol, mengkondisikan, kecenderungan sexualnya, sehingga hal inilah yang membuat seseorang terlepas dari perbuatan negatif dalam hal sexual. Itu mengapa seseorang perlu menikah karena dengan menikah mampu menyempurnakan separuh Agamanya. Ingatlah bahwa fitrah manusia yang paling dominan sebenarnya adalah kecenderungan sexual.
Kemudian mengapa seseorang perlu mempersiapkan rancangan pernikahan? Hal ini perlu dilakukan, karena pernikahan harusnya sekali seumur hidup. Perceraian? Hal ini juga yang marak terjadi di masyarakat Indonesia, dimana perceraian terjadi ketika menginjak usia pernikahan masih snagat muda. Dalam pernikahan naik turunnya sebuah gelombang cinta memang terjadi sama halnya seperti Iman manusia. Diperbolehkan memang untuk hal perceraian jika dirasa harus bercerai, tetapi bukankah Allah juga membencinya? Bahkan prestasi terbesar Iblis adalah membuat bercerainya dua pasangan dalam sebuah pernikahan. Oleh karena itu, mengapa kita perlu mempersiapkan sematang mungkin, jangan dipercepat dan jangan diperlambat. Kalian gak mau kan jika suatu pernikahan kandas di tengah jalan (tidak berlaku untuk yang ditinggalkan karena meninggal)? Maka dari itu, harus melakukan proses, dimana sebenarnya proses perbaikan ini akan menjadi proses seumur hidup.
Bukankah tujuan dari pernikahan adalah untuk membangun sebuah keluarga rabbani dengan berbagai gaya dan cara didalamnya? Salah satunya mungkin bagi teman-teman aktivis ada yang ingin menjadikan keluarganya adalah keluarga dakwah, yakni sebuah keluarga dimana anggota-anggota didalamnya sebagai pilar tegaknya dakwah ilallah. MasyaAllah…
Banyaknya keinginan dari masing-masing kita dengan kriteria calon yang seperti A sampai Z yang sebenarnya bisa jadi memberatkan dalam proses pencarian, terlalu menargetkan tanpa memantaskan. #Mimpi! Lalu apa yang harus dilakukan?
Mulai sekarang star pointing, pastikan kita tidak menyalahi sunnah-Nya.Rahmat, hidayah dan solusi apapun pastikan kita tidak keluar dari gerbang yang Allah sudah buat. Bahkan kita perlu menengok kisah-kisahnya Maryam, Aisyah dan para Shahabiyah lainnya yang mulia karenanya.Pantaskan diri kita, agar Allah memantaskan yang sama dengan kita. Jika ingin mempunya suami atau istri hafidz/hafidzah maka jadikanlah diri kita untuk seperti itu juga.Jauhkan dari hal yang berlebihan terhadap pasangan. Karena sebagian pekerjaan rumah tangga yang tidak bisa diselesaikan dengan baik pasti akan ada solusinya. Jika istri tidak belum bisa memasak maka bersabarlah dengan membelinya di warung makan terlebih dahulu.
Tulisan ini hanyalah sebagai pengingat dan mungkin bisa saya revisi jika saya sudah mengalaminya betulan. Bahwa merancang masa depan rumah tangga adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk menjadikan Islam dan Indonesia tetap terjaga. Segeralah memperbaiki keadaan diri, karena Agama dan Negara menunggu kontribusimu… Jika sudah siap maka bersegeralah, siapapun yang datang jangan di tolak, bahkan kita tidak pernah tahu mana yang akan menjadi jodoh kita. Boleh menargetkan usia berapa akan menikah. Tapi… bukan kah kita tidak mampu memprediksi sesuatu hal yang perubahannya kadang mengalahkan musim dan suhu?
Repost dari tumblr Skalaku. Di post ketika sedang menyelesaikan BAB II.
Bumi Jogja, 14 Mei 2018
Komentar
Posting Komentar