JADI APA SAJA ISI KHUTBAH DI TEMPAT KALIAN SHALAT IED?
SkalaLia
Tidak pernah berpindah setiap kali shalat Ied. Hanya saja ketika tahun lalu harus shalat Ied di tempat KKN di Wonosobo. Pertama kalinya mendengarkan khutbah shalat Ied dengan bahasa Jawa halus, saking halusnya bikin sedih, gak ngerti.
Alhamdulillah tahun ini bisa shalat Ied di Tangerang, seperti biasa dengan orang yang sama, sama @yeyenangraeni . Hampir tidak pernah satu shaf dengan Ibu, adik apalagi Bapak #yahgakmungkinlah. Sejak kecil sudah didik gak sering bersama ketika shalat Ied. Katanya sih supaya pas khutbah nanti Saya gak ngobrol. Makanya Ibu dan Saya gak pernah berangkat bareng shalat Ied. Setiap berangkat pun, sepupu Saya juga mengerti kalo lagi khutbah kita gak ngobrol. Hehe...
Beberapa tahun sebelumnya Saya dan Bapak kadang suka tidak sreg sama khutbah yang dibacakan oleh khatib (iya dibaca, soalnya sudah ada teks bacaan yang disiapkan). Biasanya karena bahasannya tidak sesuai dengan kondisi masyarakat, terlalu kaku lah, terlalu bla bla bla bla. Dan Kami sepakat dengan itu.
Nah apa yang menarik isi khutbah kali ini? Oiya sebelumnya Saya beri tahu. Saya shalat Ied di mesjid Al Mujahidin di Desa Jatiwaringin. Mesjid jati raya yang selalu tumpah ruah setiap kali shalat Ied. Saya lupa pula siapa yang menyampaikan khutbah shalat Ied kali ini. Lalu apa yang dibahas sehingga Saya tertarik menulisnya? Isi khutbah yang disampaikan menurut Saya sangat sesuai dengan kondisi masyarakat Jatiwaringin sekarang. Bahkan tidak hanya Jatiwaringin, kondisi Indonesia sekarang bisa jadi.
Pendidikan anak, rumah, keluarga, orangtua, lingkungan yang kemudian disampaikan pada saat khutbah pagi tadi. Dibahaslah bagaimana kondisi anak ketika berada dalam lingkungan keluarga yang sehat dan tidak sehat. Ada beberapa hal yang menurut saya sangat menohok jika masyarakat yang shalat Ied tadi mendengarkannya dengan seksama. Bisa jadi mereka harusnya terketuk hatinya sebagai orangtua. Bagaimana memposisikan diri sebagai seorang orangtua, istri dan suami. Disini ditekankan bahwa kondisi anak adalah akibat dari didikan orangtua di rumah. Orangtua yang baik akan memberikan efek baik pada anaknya dan sebaliknya, itu pada umumnya. Rumah adalah tempat seorang anak merasa nyaman jika didalamnya ada sebuah nama yang disebut dengan keluarga. Sehingga anak-anak akan merasa nyaman tanpa harus mencari tempat pelarian di luar selain rumahnya sendiri. Tidak bisakah melihat bagaimana kondisi anak-anak karena orangtuanya terlalu sibuk bekerja tanpa memperhatikan kondisi lingkungan dan anaknya. Bagi saya ini sangat menohok karena kebanyakan masyarakat Jatiwaringin adalah seorang pekerja, baik laki-laki maupun kaum perempuan. Kondisi seperti ini yang kemudian orangtua tidak tahu bagaimana perkembangan anak-anak mereka di sekolah dan di lingkungan sekitarnya. Sedihnya lagi ketika anak-anaknya pintar memanipulasi keadaan di depan orangtuanya. Lalu kenapa ini menjadi bahasan yang utama dalam khutbah ini? Menurut Saya, perlu disampaikan. Karena sedih sekali ketika harus melihat generasi selanjutnya adalah generasi yang cuma lata dengan zaman atau bisa dikenal dengan sebutan 'Anak Zaman'. Mereka menyerap hal apapun yang ada di depan mereka. Melihat hal yang sifatnya sangat duniawi dan dianggap biasa karena lingkungannya melakukan berulang-ulang aktifitas yang sama tapi itu salah. Kesalahan yang lazim dilakukan yang kemudian ditolerir.
Orangtua senang sekali melihat kebaikan anak-anaknya. Anak-anaknya harus melakukan kebaikan ini dan itu. Lalu hanya disuruh begitu saja tanpa ada percontohan? Anak sekarang itu mudah sekali membulak balikan omongan. Maka wajar jika anak-anak tidak langsung merealisasikan omongan orangtuanya. Seperti halnya orangtua di rumah ingin anaknya rajin membersihkan kamarnya. Ketika tidak sesuai orangtua menyalahkannya. Jelas bukan salah anak, tapi salah orangtua yang menyuruh tanpa dicontohkan. Misalnya, ketika seorang anak diperintah untuk membersihkan kamarnya sendiri maka ibu atau bapak harusnya memberikan contoh terlebih dahulu bagaimana menaruh barang-barang pribadi, memasukan sarung bantal, mengganti seprai dan hal kecil lainnya. Pernah kan mendapati atau melihat kejadian ketika seorang anak hanya melakukan apa yang diperintah oleh orangtuanya. Hanya menyapu tanpa mengepel padahal orangtuanya berpikir bahwa harusnya menyapu rumah sepaket dengan mengepelnya juga. Itulah hal sepele yang bisa saya jabarkan dari bahasan khutbah shalat Ied tadi pagi.
Hal lainnya yang disampaikan adalah bagaimana seorang anak menjadi Qurrata a'yun (Penyemangat hati) ketika berada di rumah. Hal ini jelas membutuhkan proses yang lama dengan orangtua yang berperan penting didalamnya. Jadi jelas ketika ingin mempunyai anak-anak yang berkualitas (nurut sama orangtua), orangtua pun harus loyal kepada anak. Percayalah bahwa kehadiran fisik itu kadang lebih menenangkan hati seorang anak ketika anak sedang direndahkan, jatuh hatinya, jatuh imannya, butuh pelukan dan butuh disemangati. Hmmm... Penulis ini hanya sedang mawas diri. Sedang menegur lewat tulisan. Jadi santai saja, di kritik saja tulisannya...
Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah beri keberkahan atas patuhnya kita pada orangtua. Selamat berproses memperbaiki diri. Katanya ingin menyelamatkan Agama dan Bangsa? Dan kamu masih suka ngeluh gegara deterjen pakaian? Hehehe Lia lia.

Komentar
Posting Komentar