"Banyak Main Sama Anak Angkatan"
#LembarSatwa10
-SkalaLia-
Kehidupan mahasiswa tingkat akhir khususnya
anak-anak departemen KSDH (Konservasi Sumberdaya Hutan) angkatan tahun 2014 banyak ombaknya. Sekali ombak
reda muncul bentukan ombak yang lain yang sepertinya reda tapi tak ada
habisnya. Permasalahan akademik yang bisa dibilang tidak begitu sejalan dengan
apa yang diminta lebih tepatnya dituntut untuk lulus cepat, UKT dan
teman-temannya yang membuat hati mahasiswanya tidak lepas dari keluhan. Banyak
hal yang kadang saya tidak tahu atau tertinggal dari beberapa berita di kampus.
Padahal saya merasa sudah se-update ini jadi mahasiswa. Tapi ternyata tidak.
Permasalahan bukan sesuatu hal yang ternyata bisa diumbar kemanapun, padahal
sebuah kesedihan kadang perlu dorongan semangat. Alih-alih berpura-pura baikkah atau sekedar bertanya, "Gimana skripsiannya?" "Eh PJUR
(Praktek jurusan)nya gimana?" "Semprop kapan?" Dan hal lainnya
yang seharusnya tetap harus dipikir positif bahwa setiap teman adalah teman
yang baik. Karena mahasiswa tingkat akhir harus punya teman, untuk diingatkan bahwa ada amanah orangtua, almamater yang perlu dituntaskan.
Setelah melihat antusias dan perhatian
orang-orang terhadap temannya yang terpuruk akibat harus menelan kabar dari
komite skripsi bahwa saya masuk ke laboratorium satwa liar yang membuat saya
harus terdiam dari siang sampe malam hari menangisi keadaan, cengeng. Sikap
merekalah yang membuat saya sadar bahwa perjuangan skripsi ini memang perlu
kepekaan, perhatian, empati dan hal baik lainnya layaknya hidup bertetangga di
pedesaan. Perjalanan akademik yang tidak dirasakan
oleh departemen yang lain saya rasa inilah yang membuat angkatan departemen
KSDH saya semakin kuat dan menguatkan.
Oh jadi begitu ya, ternyata kehidupan
memang harus ada cobaannya dulu, ada pahitnya dulu semata-mata untuk
menyadarkan bahwa hidup bukan soal diri sendiri saja. Jangan kamu fikir dengan
ada atau tidaknya kamu suatu kelompok akan tetap baik-baik saja. Coba bayangkan
kalo semua mahasiswa atau teman-teman mu berpikir hal yang sama, maka tidak
akan ada habisnya. Saya pernah seperti itu apalagi tentang masalah waktu, tapi
memang benar saya harus dibenturkan dulu dengan suatu permasalahan supaya saya
sadar bahwa ternyata 15 menit kita terlambat ada orang-orang yang waktunya
sudah termakan sia-sia untuk menunggu kita. Padahal bisa jadi ada acara lain yang perlu dia kejar
pula.
Saya juga turut berbangga atas prestasi
yang teman-teman saya capai. Arie Dwika dengan gelar #FKT1 yang menjadi
wisudawan pertama, dan Agustus ini ada 3 orang menyusul untuk di wisuda, Eta,
Adhen dan partner organisasi saya di 3 organisasi, Khairul.
Jadi sekarang mulailah merepotkan diri
sendiri, bukankah masing-masing anak juga sudah punya beban skripsi terhadap
dirinya sendiri. Yang sekarang perlu dilakukan hanyalah saling membantu. Entah
dalam bentuk doa maupun berkecimpung juga dalam proses penyelesaian skripsi
teman kita.
Semoga saling termotivasi bukan saling
mengutuk diri sendiri. Kita hanya perlu percaya, tidak putus asa, bersabar
sedikit dan tidak ragu dengan kekuatan doa. Tidak mau mencoba untuk meminta pada sang kuasa? Coba saja siapa tahu ketagihan dengan nikmatnya, pasti. Saya yakin di agama manapun kita tidak pernah diajarkan untuk putus asa dan tidak amanah. Jadi tunggu apalagi?

Komentar
Posting Komentar