Langsung ke konten utama

JALANAN KOPI..


"Jalanan Kopi"
#LembarSatwa12
-SkalaLia-



Sedikit harus berjalan di saat sepeda motor tidak bisa menanjak meskipun sudah dengan tenaga yang full. Jalan menuju tempat penginapan ini menjadi satu hal menarik. Malam ini yakin betul bahwa bisa sampai sini tidak lain karena bantuan Allah, karena izin Allah. Selamat tanpa cacat.

Sebelumnya teman satu motor saya sudah memberikan gambaran "nanti kamu bakal nemu yang lebih dari ini, tenang aja dikit lagi nyampe" begitu saja terus. Hingga dia juga sadar bahwa sudah berapa kali ia mengatakanya. Tapi tidak apa. Karena diperjalanan kita butuh teman berbincang.
Sampailah ditempat penginapan. Ban motor menapaki jalan yang berbeda. Jalanan yang aspalnya seperti dilapisi biji-biji kopi warga. Amat hati-hati. Malam tak terlihat bagaimana bentukan jalan yang aspalnya kopi.

Pagi menjelang, suara burung bersahutan entah apa jenisnya. Pertama ada di hutan Kemuning membuat saya sedikit terkejut dengan pemandangan malam lalu, rumah pak dukuh yang hampir semua jalannya biji-biji kopi. Tidak hanya itu, saya menemukan di jalan yang lain. Sepanjang jalanan menuju hutan untuk survey saya banyak temukan hamparan biji-biji kopi. "Wahhhhhhhh" begitulah kenorak-an yang saya rasakan. "Kenapa mbak?" Tanya Mas Budi anak pak dukuh. "Gak apa mas, ini semua depan rumahnya biji kopi". Iya, ini musim panen kopi. Semua rumah pasti bertebaran biji kopi yang dikeringkan. Lama mengamatinya sebelum berangkat ke lapangan. "Kok bisa dijemur sembarang, diinjek orang, halulalang motor lewat, dan sebagainya." Ternyata itu cukup membantu. Membantu kulit kopi terkelupas sehingga bijinya bersih dari kulit. Kehidupan sekali ternyata. Terbiasa diinjak, rela sekali, tidak berdaya, tapi ditunggu keberadaannya, menunggunya lumayan lama, masyarakat senang merawatnya, dan ketika ia ada, ia sangat berharga. Seperti bayi kecil, tak boleh terkena air hujan.

Kemuning mulai mendung, warga bergegas membereskan jemuran biji kopi supaya tidak terkena air hujan. Begitulah kita perlu bergegas, meskipun pada akhirnya tidak jadi hujan. Antisipasi tidak apa, barangkali malam hari turun hujan. Hal ini juga perlu kita lakukan, bergegas sebelum waktunya tiba. Sebelum injury time. Hmmm, saya jadi sadar betapa harus bergegas sebelum waktunya. Rasanya terciduk lagi oleh waktu. Perjalanan sebelum ke tempat ini, saya menunda waktu bimbingan proposal skripsi saya. Padahal tinggal di print dan menghadap dosen bimbingan kedua saya. Tapi saya memilih untuk menunda, alasan yang sebenarnya bisa saya tunda dan memilih pekerjaan lain. Katanya sih, "mau siap-siap untuk survey ke lapangan". Padahal berangkat masih sore dan saya masih punya waktu untuk bimbingan. Harusnya!!

Terimakasih jalanan biji kopi. Setidaknya kehidupan kalian memberikan hikmah pada mahasiswa semester akhir ini yang belum sempat seminar proposal dan sudah survey terlebih dahulu. Semuanya jadi pilihan entah mau cepat atau lambat menyelesaikannya salah satu bentuk kehidupan yang menarik ini, skripsi.

Bukan seberapa cepat seminar proposal, tapi seberapa konsisten mengerjakannya... Lalu kamu bagaimana? 

Hutan Kemuning, 31 Juli 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANDOM..... IT'S ALL ABOUT YOU #RANDOMTALK

RANDOM -Skalalia- Duri telah berpindah dari tepi batang pohon Jatuh ke tanah setelah melewati fase waktu hembusan angin, suaranya angin tumbang Bukan biji buah yang dengannya menimbulkan generasi baru Apalagi buah jatuhan yang kualitasnya jelas sudah terduga, tubuh ke tanah dan jiwa ke angkasa... Seorang ibu melahirkan seorang anak dengan banyak tarikan nafas Seorang anak tumbuh berkembang   tanpa cacat dengan banyak dorongan tenaga Waktu yang melambat dan di percepat karena ulah manusia Dan tak berjalan mundur dan hari tak akan pernah terulang... Hari buruk datang untuk mengingatkanmu bahwa Tuhan ada kapanpun Untuk meminta-Nya membuat kembali lekukan di bibir, dengan memohon, terisak sesak Tidak percaya pada dunia baru membuat kita keliru, mencari dan akhirnya bosan Terdiam dan melamun setelahnya kau sadar bahwa hidup bukan soal meminta tetapi memberi lebih.. Serupa kegembiraan yang menjeda pada petang itu Tergambarnya langit dengan warna...

ADA IDE YANG MENDESAK INGIN DIEKSPRESIKAN

Selamat pagi, siang, sore, dan malam... Semoga yang menjadi senantiasa diberikan kesabaran atas apapun isi dari tulisan ini.  Perkenalkan nama saya Lia Muslimah. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua saya adalah seorang buruh di Pasar Sepatan dan seorang guru TK dan MDTA di rumah. Saya adalah seorang mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang baru saja menjalani sidang skripsi terkait kukang jawa ( Nycicebus javanicus ) di laboratorium satwa liar. Saya berasal dari sebuah desa di bagian utara kabupaten Tangerang, tepatnya di kecamatan Mauk. Salah satu kecamatan yang termasuk kedalam kecamatan tertinggal dari segi pendidikan. Sedih bukan termasuk ke dalam kecamatan tertinggal. Sejak saya sekolah di bangun sekolah dasar saya sudah mempunyai keinginan untuk kuliah, angan-angan jadi orang yang kuliah dan menjadi orang yang besar. Pikir sempit ku waktu itu. Tapi nyatanya tidak banyak yang akhirnya memiliki pemikiran yang sama untuk kuliah padahal setiap d...

Menantang Diri Lagi???

Menantang Diri Lagi??? Bertemu lagi dengan sabtu malam, di tempat yang sama, dan bukan di asrama tempat ku berdiam diri.  Sangat tidak produktif sekali, menulis tidak lagi menjadi bagian dari prioritas. Padahal tidak hanya satu, dua ataupun tiga ide-ide maupun cerita yang ingin dituangkan dalam tulisan. Sedih sekali rasanya ternyata diri ini masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Sabtu malam ini ingin ku curahkan hati ku, bagaimana bisa anak sekeras ini bisa selemah ini soal percintaan. Menurutku sangat wajar sekali, bahkan harusnya memang bersyukur karena masih bisa merasakan hal seperti ini. Bahkan dengan ini kadang aku jadi belajar bagaimana mengatasi orang-orang yang mengalami hal yang sama. Lalu kamu mau cerita apa kali ini?  Aku mau cerita hal yang sama, yang aku tuju pun sama orangnya. Itu-itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Aku tidak bisa menyebutkan namanya, karena aku pikir semakin hari ke hari sepertinya ini akan menjadi cerita saja. Cerita dari sisa hidup...