Langsung ke konten utama

PERON DENGAN SEGALA SUARANYA


PERON DENGAN SEGALA SUARANYA
"BERTO KOK JUDULNYA BEDA?"
Peron 2 - Statiun Tangerang
-SkalaLia-



Hari ini Saya balik ke Jogja. Balik ya bukan pulang. Dengan segala bentuk drama kecil di rumah. Mulai terlalu santai packing, terlalu lama ngingetin yang jemput. Yang harusnya berangkat setengah 9 pagi jadi berangkat 10 pagi. Dan itu adalah sebuah pelajaran yang ternyata berisikan rentetan hikmah-hikmah kecil bernilai.

Tibalah di statiun Tangerang. Karena gak yakin kartu KRL nya gak ada saldonya jadilah isi saldo dulu biar bisa masuk peron. Eh pas cek total saldo masih banyak. Lenyap deh uang 20-an yang harusnya masuk kantong #thepowerof20ribu. 

Gak nunggu lama dan gak bentar juga di peron. Dari yang tadinya sepi sampe rame banget, dari yang banyak tanya sampe udah gak ada yang nanya. Nunggu itu gak enak aslinya cuma emang gitu hidup perlu nunggu dari satu waktu ke waktu yang lain. Ditengah fasenya ada cerita. Isinya sih pasti beda-beda. Tapi kok bosen ya ternyata dimana-mana orang ngomongin Skripsian gak kenal waktu. Enek. Wkwkw

Namanya Berto, anak laki-laki yang Saya temui di peron 2 statiun. Tinggi, berisi, berkacamata, kulitnya gak paham deh takut rasis. Wkwk. Dia bersama temannya seorang perempuan. Suaranya bergema. Ngobrol kaya pake toa gitu. Kayanya juga bukan asli Tangerang sih kalo denger logatnya. Mereka ngobrolin skripsian. Ternyata Berto punya kemiripan sebelas dua belas lah ya dengan Saya.
Gak ngumping, cuma kedengerang aja. Berto ini sedang dikejar sama dosennya buat bimbingan. Lucunya setiap bimbingan ini anak mesti suka ganti judul tanpa sepengetahuan dosennya. "Berto Judulnya kok beda?" Kan saya suruh kamu buat revisi bagian ini aja. Bukan ganti judul skripsi dan semuanya diganti". Begitulah~. Temannya langsung naik pitam. Wkwk "Ya loh gak bisa gitu loh. Loh harusnya fokus satu aja. Gak usah ganti-ganti. Biar cepet lulus." Ujarnya. Berto tidak menimpali sedikit pun. Saya udah gak fokus dengerin. Karena isinya cuma pembelaan Berto terhadap dirinya sendiri. Seperti tidak ingin disalahkan. .

Halahhalah... Saya dengerin saya yang tersinggung. Benar adanya. Setiap tempat itu adalah ujian. Wkwk. Dan ini ujiannya. Harus menerima nasihat lewat mulut siapapun.
Bersambung...
#21tahunbercerita

PERON 1 - STATIUN DURI 
"Asalkan Sama Kamu"
-SkalaLia-



Statiun Duri adalah salah satu statiun transit yang sekarang sudah semakin bagus dan lebar. Tetap saja, penuh desak. Tapi setidaknya lebih teratur. 

Dari Tangerang ke Duri. Lamanya nunggu KRL Jatinegara kaya nunggu kamu. #eeeaaa halah orang cuma nunggu 1 jam pas kok. Nunggu kamu bertahun-tahun capeknya gak di tumit tapi di hati. 

Banyak hal yang terjadi di statiun duri peron 1. Entah kenapa peron udah kaya milik pribadi. Kaya rumah, yang mereka bisa seenaknya selfie, seenaknya ngobrol, seenaknya bercanda, seenaknya kecup kening anaknya, seenaknya berduaan, seenaknya berubah jadi tempat bermain kanak-kanak. 

Saya nunggu aja udah kesemutan, iya soalnya Saya nunggunya sendirian. Ngeliatin orang aja sendirian, apalagi pas ada yang lucu-lucunya harus nahan ketawa sendirian. Nah enaknya kemana-mana itu ya bareng-bareng sama keluarga pula. Tapi banyak orang juga yang gak suka kemana-mana bergandengan apalagi sama orangtuanya. 

Enaknya punya temen ketika diperjalanan ya itu, mengurangi keluhan. Entah ngeluh kesemutan, kelamaan, emosi hati, dan lainnya. Di peron kebanyakan bawa berkeluarga, iya soalnya mereka bawa anak-anaknya dan pacarnya. Lah loh? Saya bawa sih gandengan, ni totebag bekal buat di kereta. Hmm. .

Dari keluarga yang ada di samping kanan kiri saya aja jarang banget loh mereka ngeluh. Karena ketika ingin mengeluh dan bosen mereka selalu punya cara supaya suasana gak ngebosenin. Pake acara makan yang gak berhenti-henti, sampe saya denger "Coba aja tuh cek tasnya mesti isinya kulkas". Ada yang mulai bosan nunggu, terus sama bapaknya dikecup keningnya, dipeluk. Unchh banget sih. Hehe. Ada juga anak kecil yang ngebecandain anak kecil yang lain. Kesel gak sih kalian, satpam dibecandain dengan cara anak kecil itu pura-pura ngedorong anak kecil satunya supaya si satpamnya kaget gitu. Ya saya pengen ketawa gak enak mana sendirian, dan takut dosa juga sih. Wkwkw .

Nah kan jadi bener, sebenarnya hidup sendiri itu gak selamanya enak. Ya contohnya aja kita dilahirkan juga buat punya pasangan juga hehe. Biar bisa berbagi keluhan hidup. Selamat mencari...

#21tahunbercerita

PERON 1 - STATIUN PASAR SENEN
"Ada Yang Nangis di Statiun..."
-SkalaLia-


Bisakah kita menengok apa yang ada di sekeliling kita? 
Kadang menulis itu perlu suasana yang mendukung pula. Hobi yang ingin menjadi sebuah pekerjaan yang menyenangkan. 
Setelah menunggu satu jam, dan harus naik ojeg dari statiun Gang Sentiong ke Pasar Senen. Dimana bang ojegnya ngebut banget, selip sana selip sini berasa gak bawa penumpang. Alhamdulillah, emang dasar masih rezeki dan umur saya ya, ya nyampe aja tuh di statiun Pasar Senen. Lewat jalan tikus dan gak pake helm. Warbiyasah....

Sedikit drama setiap perjalanan ke statiun Pasar Senen selalu ada saja kisah menarik. Salah satunya ini. Ngangisnya seorang anak perempuan di peron statiun. Hmmm.. kok bisa nangis? Awalnya saya masih sibuk dengan muka yang udah berminyak, keringet yang udah gak karuan tumpahnya. Sambil nunggu mbak-mbak yang nitipan barang bawaannya, karena doi mau shalat dulu katanya. MasyaAllah. Tetiba dari arah belakang, ada anak perempuan nangis sesungguhkan tapi itu asli bikin saya sedikit penasaran dan bawa perasaan. Anak perempuan ini sama Bapaknya yang menurut saya udh lumayan tua itu berdiri sembari nunggu kereta. 
Lagi-lagi saya gak nguping, kedengeran aja karena Bapaknya ngomong agak keras sedikit. Anak ini nangis seakan-akan berdosa sama bapaknya, minta maaf karena ngerasa ngecewain. Bapaknya ini cuma bisa ngediemin dan nyemangatin. "Udah gapapa kalo soal itu gampang. Hape yang ilang bisa dibeli lagi. Bapak nanti beliin lagi hape yang baru. Udah serahin aja sama Allah". Terus bapaknya kaya ngeluarin suatu hadits tapi gue lupa redaksinya kaya gimana. Intinya anaknya disuruh sabar dan tawakal aja biar menyerahkan apapun sama Allah. 

Keduanya sama-sama orang baik. Si anak yang masih punya rasa bersalah dan minta maaf, si Bapak yang masih punya rasa memaafkan dan menenangkan. Dari sini saya tahu betapa orangtua selalu berusaha untuk kasih apapun yang diinginkan anaknya dengan tidak melepaskan pertolongan kepada Allah. Minta sama Allah kalo mau apa-apa. Allah pasti kasih kok insyaAllah. Kadang kita gak minta aja Allah kasih. Allah itu tahu segala isi hati, niatan baik dan buruk. Kadang Allah memberikan langsung dan tidaknya sebuah permintaan pasti ada alasannya. Tapi Allah tidak pernah kan langsung menghukum hambanya yang melakukan kesalahan? Lalu masih gak mau berdoa supaya apapun diberikan kemudahan? Untuk barang semacam handphone itu adalah hal kecil bagi Allah. Dari sini saya tahu betapa seorang anak gak mau kok ngecewain orangtuanya dengan kecerobohannya. Dan di sini saya juga tahu kalo kesalahan anak bisa diobati dengan kita yakin sama Allah.

Selamat menyelesaikan amanah akademik, karena kelulusan adalah hal yang membuat orangtua kita bisa lebih bersemangat menyemangati kita di fase selanjutnya.

#21tahunbercerita
#skalaliabercerita
#LembarSatwa7

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANDOM..... IT'S ALL ABOUT YOU #RANDOMTALK

RANDOM -Skalalia- Duri telah berpindah dari tepi batang pohon Jatuh ke tanah setelah melewati fase waktu hembusan angin, suaranya angin tumbang Bukan biji buah yang dengannya menimbulkan generasi baru Apalagi buah jatuhan yang kualitasnya jelas sudah terduga, tubuh ke tanah dan jiwa ke angkasa... Seorang ibu melahirkan seorang anak dengan banyak tarikan nafas Seorang anak tumbuh berkembang   tanpa cacat dengan banyak dorongan tenaga Waktu yang melambat dan di percepat karena ulah manusia Dan tak berjalan mundur dan hari tak akan pernah terulang... Hari buruk datang untuk mengingatkanmu bahwa Tuhan ada kapanpun Untuk meminta-Nya membuat kembali lekukan di bibir, dengan memohon, terisak sesak Tidak percaya pada dunia baru membuat kita keliru, mencari dan akhirnya bosan Terdiam dan melamun setelahnya kau sadar bahwa hidup bukan soal meminta tetapi memberi lebih.. Serupa kegembiraan yang menjeda pada petang itu Tergambarnya langit dengan warna...

ADA IDE YANG MENDESAK INGIN DIEKSPRESIKAN

Selamat pagi, siang, sore, dan malam... Semoga yang menjadi senantiasa diberikan kesabaran atas apapun isi dari tulisan ini.  Perkenalkan nama saya Lia Muslimah. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua saya adalah seorang buruh di Pasar Sepatan dan seorang guru TK dan MDTA di rumah. Saya adalah seorang mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang baru saja menjalani sidang skripsi terkait kukang jawa ( Nycicebus javanicus ) di laboratorium satwa liar. Saya berasal dari sebuah desa di bagian utara kabupaten Tangerang, tepatnya di kecamatan Mauk. Salah satu kecamatan yang termasuk kedalam kecamatan tertinggal dari segi pendidikan. Sedih bukan termasuk ke dalam kecamatan tertinggal. Sejak saya sekolah di bangun sekolah dasar saya sudah mempunyai keinginan untuk kuliah, angan-angan jadi orang yang kuliah dan menjadi orang yang besar. Pikir sempit ku waktu itu. Tapi nyatanya tidak banyak yang akhirnya memiliki pemikiran yang sama untuk kuliah padahal setiap d...

Menantang Diri Lagi???

Menantang Diri Lagi??? Bertemu lagi dengan sabtu malam, di tempat yang sama, dan bukan di asrama tempat ku berdiam diri.  Sangat tidak produktif sekali, menulis tidak lagi menjadi bagian dari prioritas. Padahal tidak hanya satu, dua ataupun tiga ide-ide maupun cerita yang ingin dituangkan dalam tulisan. Sedih sekali rasanya ternyata diri ini masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Sabtu malam ini ingin ku curahkan hati ku, bagaimana bisa anak sekeras ini bisa selemah ini soal percintaan. Menurutku sangat wajar sekali, bahkan harusnya memang bersyukur karena masih bisa merasakan hal seperti ini. Bahkan dengan ini kadang aku jadi belajar bagaimana mengatasi orang-orang yang mengalami hal yang sama. Lalu kamu mau cerita apa kali ini?  Aku mau cerita hal yang sama, yang aku tuju pun sama orangnya. Itu-itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Aku tidak bisa menyebutkan namanya, karena aku pikir semakin hari ke hari sepertinya ini akan menjadi cerita saja. Cerita dari sisa hidup...