"Sidang Skripsi Menular.."
#LembarSatwa14
-SkalaLia-
Bisa terhitung sekali di media sosial saya, berhamburan ucapan "selamat yaaa, congrats , Barakallah, happy graduation" dan lainnya. Setiap hari hampir kabar gembira karena sidang skripsi teman-teman berdatangan. Saya juga ikut senang dan termotivasi, meminta doa untuk disegerakan. Tidak sabar rasanya ingin sekali menyelesaikan amanah akademik jenjang S1. Berawal dari seringnya mendengar kabar gembira, menyaksikan teman-teman merayakan kaka tingkatnya yang sudah diwisuda. Bahkan pagelaran ceremony dari beberapa fakultas pun berbeda juga. Saya juga mulai sering melihat beberapa video pendek tentang wisuda seseorang atau pun bentuk ceremony perayaan wisuda kampus-kampus besar di Indonesia. Mulai dari yang receh mengesankan sampai hal yang membuat haru biru. Bentuk tangisan gembira yang tak sengaja, bentuk gerakan tangan yang lebih ramah, bentuk mimik wajah yang tak ada beban, dan entah bentuk hati yang bertanya "setelah ini kemana? Setelah ini kerja apa?", Kecemasan yang tersembunyi, tenang tapi cemas. Terbalut sudah dengan rasa syukur karena sudah melewati fase awal, menyelesaikan amanah orangtua, almamater. Selamat!!!!
Lalu saya terkesima dengan sebuah dokumentasi dari kampus lain, institut yang sama juga mencetak generasi bangsa. Sebuah video dokumentasi yang berisikan sajak puisi menggugah hati, didedikasikan untuk diri sendiri, wisudawan, almamater dan bangsanya. Puisi ini ditulis oleh Hanifa Chairunnisa dari Lingkar sastra ITB.
Suara pengisi, Yahya Abdullah yang kuat dan tegas. Silahkan siapkan hatimu untuk sejenak merasakan, sembari berpikir bahwa setiap kalimatnya bermakna.
Aku menyusuri jalan riwayat
Ditempuh hayat dikandung badan
Jalanan tanah dimana aku terus maju walau merangkak
Ketika sempat aku merasa tak sanggup untuk berjalan
Rimbun harapku teduh. Kokok.
Semakin merunduk, semakin berbunga, semakin aku dewasa. Lalu tibalah aku diujung pendakian yang daripadanya telah ku relakan. Telah ku tambatkan cita-citaku
Ku pertaruhkan ambisi dan anganku. Dan yang paling penting kuputuskan untuk percaya disinilah paling tepat menggapai takdir baikku
Semua ini tentang aku, pada awalnya...
Semua hal berawal dari dirimu sendiri. Langit yang menghubungkan tempat ini dan apa-apa yang ada di luar sana. Menyadarkanku bagaimana segalanya bisa saling terkait
Warna-warni dunia tercipta dari satu dan lain hal yang saling bercampur, menyeruakan kisah baru...
Pemuda-pemudi nusantara menguar lalu bersama-sama kami jadikan harapan ini suar, dimana kami selalu bisa melihat cahata ketika kami membutuhkannya...
Cakrawala nusantara selalu menjadi pesona. Bagimanapun kondisinya, kepada bangsa tempat berdiri, akan kupersembahkan diri yang kuat melawan onak berduri..
Seluas bentangan langit itu, kita bisa mencoba, anganku, anganmu, ditiup angin. Maka bersama udara yang terus bergerak itu, aku dan kamu akan kuat, tapi juga terus bergerak.
Sementara...
Warna langit dimana pijakanku kugantungkan terus berubah. Selagi dunia masih jelma belantara sementara.Tiada tara yang bisa aku lakukan untuk percaya. Masa depan masih berupa ruang kosong yang menjulang. Maka langit tidak lain hanyalah ruang kosong. Namun bukan tempat harapan kosongTapi..
Pada akhirnya semua ini bukan lagi hanya tentang aku.. Melainkan tentang kita, bersama, melukiskan berbagai warna. Lalu tibalah kita saatnya...Kalimatnya bisa jadi adalah sebuah momeri yang sempat terlupa lalu bangkit lagi ketika masa perpisahan itu datang. Moment dimana semua orang menantinya...
Belum sampai seminar proposal pun melihat teman-teman yang sudah mulai menyelesaikan amanah S1 rasanya saya juga ingin, ingin bersyukur lebih. Karena sidang skripsi adalah nikmat yang masing-masing mahasiswa akan merasakannya, hanya soal waktu saja, semuanya sudah ada jadwalnya masing-masing...
Seperti yang sudah saya ceritakan di lembar satwa sebelumnya, per agustus ini ada 7 orang teman-teman saya yang akan di wisuda, setidaknya tulisan ini menjadi bukti bahwa meraka merupakan salah satu motivasi saya dan teman-teman untuk segera menyelesaikan amanah akademik untuk menerima amanah baru pasca kampus, entah bekerja, membuka lapangan pekerjaan, ataupun bentuk amanah lain, menikah misalnya. hehehe...
Selamat merayakan kemerdekan dengan bijak, mari bebas dari penjajah. Berhentilah mengeluh, saya juga sadar mengeluh tentang skripsi sama saja bentuk penjajahan pada diri sendiri.
Kota nyaman, 17 Agustus 2018
Lia Muslimah

Komentar
Posting Komentar