Langsung ke konten utama

ULANG TAHUN DI HUTAN


Ulang Tahun di Hutan
#Lembarsatwa16
-SkalaLia-

Dinginnya tidak bersahabat, tidak ingin lepas dari selimut hangat yang disediakan mak'e, menerka suara barang kali suara adzan subuh memang sudah bersahutan, nyata memang belum datang waktu subuh.

Udara dingin memang ujian, bangkit atau tetap tidur lagi. Bahkan jelas sekali panggilannya diulang dua kali ketika adzan subuh Ash-shalaatu khairum minan-nauum "Shalat itu lebih baik dari pada tidur".

Gelap sedikit pengap, lampu kamar yang sengaja dimatikan sebagai tanda saja bahwa ada orang yang sedang tidur. Keluarlah dari satu ruangan menuju ruangan yang lain. Lagi-lagi air lebih dingin dari  sejuknya udara. Tak ingin kalah oleh keduanya, bertemulah ketiganya, kulit-air-udara.
Melihat ponsel yang sesekali bergetar, saya pikir "ahh paling pesan-pesan semalam yang bersangkutan entah kemana dulu jalannya", maklum saja sinyal di sini kaya doi "datang dan pergi seenak jidat". Hehehe
Dibuatnya penasaran, saya tertarik juga untuk mengecek.

Kadang manusia itu ada sisi sensitifnya. Entah sensitif gara-gara perkataan orang, tulisan yang menyayat, perilaku orang yang romantis atau jahatnya seseorang kepada kita, dan hal lainnya yang kadang tidak sesuai nalar pun bisa. Berderetlah beberapa ucapan dari teman-teman yang saya pun juga baru sadar setelah melihat kalender di ponsel saya. Angkanya berganti menjadi 26 Agustus. Iya, tanggal lahir seorang anak perempuan, mahasiswa semester akhir yang perlu keluar dari kampusnya.
Dani pertama kali yang mengucapkan, jika ibu punya paket internet saya yakin ibu juga lebih dulu mengucapkan. Untaian doa-doa baik untuk anaknya. Tak terasa anak kecil ini mulai beranjak dewasa. Ibu bilang, "Gak kerasa ya dulu masih pake kaos cangklek, sekarang udah mulai dewasa aja". Ingatlah saya masih anak kecil ibu yang kadang masih rindu masa kecil. Tapi nyatanya memang waktu selalu berpindah. Kita selalu merindukan masa kecil, yang momentnya sudah lampau, yang kenangannya masih membekas. Tapi jika kita meminta untuk kembali ke masa kecil kita tidak cukup dewasa untuk hal itu bukan? Semuanya perlu dihadapi bahkan pertambahan umur yang sebenarnya adalah pengurangan jatah hidup di dunia. Masa kecil saat moment ulang tahun pasti identik sekali dengan pesta, tapi tidak dengan saya. Hanya syukuran ala kadarnya saja. Ucap doa yang baik dan setelah itu makan malam biasa di rumah, entah dengan 3 porsi bakso dimakan berempat atau makan dengan menu yang dimasak hari itu. Sesimpel itu memaknai hari ulang tahun. Tapi itu tidak wajib, bahkan islam pun juga tidak ada bentuk perayaan, yang harus dilakukan hanya mensyukuri setiap kesempatan hidup yang masih diberi.

Terimakasih Yena dan Mas Budi, sudah mau memberi semangat di lapangan saat ambil data. Di plot ukur ke 13. Dimulai dari Yena yang dapat sinyal internet kemudian ia berkata "wahhhhhhhh... Lia. Sekarang tanggal berapa Li?". Saya hanya mengelak saja, pura-pura lupa saja dengan itu. Mas Budi kepo, oiya beliau ini guide saya di lapangan. Beliau pun mengucapkan selamat sembari meminta traktiran setelah keluar dari lapangan. Saya mengiyakan saja hitung-hitung menyenangkan hati siapapun hari ini. Dinyanyikannya lagu selamat ulang tahun sekenanya dengan mengubah liriknya. "Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, abis selesai dilapangan, kita makan-makan" saya juga hanya mengiyakan saja sembari tersenyum. Bersyukur sekali hari ini prestasi kerja di lapangan sedikit meningkat. Alhamdulillah. Iya benar, kebahagian seseorang itu menular pada etos kerja. Tibalah di rumah, Yena memintaku untuk menghampirinya, seraya mengungkapkan segala doa-doa terbaik untuk ku, segala doa yang aku aamiinkan tanpa henti, hingga dia menyebutkan di akhir, semoga jadi seorang Hafidzah. Entah seperti cambukan sekali, sudah seberapa usahanya untuk mencapai itu, hati yang masih ada kesal dan dongkolnya kepada manusia yang barang kali menghambat karena kotornya hati.

Kita akan menanti moment bahagia, entah dengan orang yang sama atau bukan. Kadang juga saya berpikir apakah setelah menikah akan mendapatkan pasangan yang sama juga antusiasnya seperti keluarga saya jika anak-anaknya berulang tahun? Kadang bagi seorang laki-laki hal seperti ini adalah hal sepele yang hakiki, tapi bukankah berbeda dengan perempuan? Maka yang perlu saya harus belajar bersiaplah, siapa tahu kelak ketika sudah menggenap kamu akan berhadapan dengan orang yang tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan selamat ulang tahun kepada istrinya. Hmmmm.. Itu hanyalah sebagian pikiran egoisnya wanita. Bisa jadi juga ada orang-orang yang memang tidak begitu antusias dengan tanggal lahirnya. Tanggal lahir hanyalah sekedar tanggal lahir. Hanya sebuah tanggal di mana tanggal itu kita dilahirkan ke dunia. Mencicipi kenikmatan dunia yang sebenarnya hanyalah titipan dan bisa Allah minta kapanpun Dia mau mengambilnya. Tak perlu izin. Maka kenapa kita perlu bersyukur setiap harinya, ya karena ini. Umur adalah rasa syukur, umur adalah kenikmatan. Pertambahan Umur adalah pertanda bahwa kita memang dituntut untuk memperbaiki kedzaliman yang kita lakukan kepada Tuhan, manusia dan alam ini. Jadi bagaimana sudah menyiapkan resolusi apa di umur 22 ini? Selesai urusan sepele mu!!!! Maafkanlah dan minta maaflah, barang kali itu yang menghambat setiap niat untuk melangkah lebih baik.


Alhamdulillah.. pengurangan umur ini saya dihadapkan dengan berbagai polemik dimana sebenarnya Allah hanya sedang mentarbiyah diri saya untuk selalu memperbaiki diri...
Barakallah fii umrik atas umur yang genap ini...


Kemuning di bawah tegakan kopi, 26 Agustus 2018
Lia Muslimah
#22tahunbercerita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANDOM..... IT'S ALL ABOUT YOU #RANDOMTALK

RANDOM -Skalalia- Duri telah berpindah dari tepi batang pohon Jatuh ke tanah setelah melewati fase waktu hembusan angin, suaranya angin tumbang Bukan biji buah yang dengannya menimbulkan generasi baru Apalagi buah jatuhan yang kualitasnya jelas sudah terduga, tubuh ke tanah dan jiwa ke angkasa... Seorang ibu melahirkan seorang anak dengan banyak tarikan nafas Seorang anak tumbuh berkembang   tanpa cacat dengan banyak dorongan tenaga Waktu yang melambat dan di percepat karena ulah manusia Dan tak berjalan mundur dan hari tak akan pernah terulang... Hari buruk datang untuk mengingatkanmu bahwa Tuhan ada kapanpun Untuk meminta-Nya membuat kembali lekukan di bibir, dengan memohon, terisak sesak Tidak percaya pada dunia baru membuat kita keliru, mencari dan akhirnya bosan Terdiam dan melamun setelahnya kau sadar bahwa hidup bukan soal meminta tetapi memberi lebih.. Serupa kegembiraan yang menjeda pada petang itu Tergambarnya langit dengan warna...

ADA IDE YANG MENDESAK INGIN DIEKSPRESIKAN

Selamat pagi, siang, sore, dan malam... Semoga yang menjadi senantiasa diberikan kesabaran atas apapun isi dari tulisan ini.  Perkenalkan nama saya Lia Muslimah. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua saya adalah seorang buruh di Pasar Sepatan dan seorang guru TK dan MDTA di rumah. Saya adalah seorang mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang baru saja menjalani sidang skripsi terkait kukang jawa ( Nycicebus javanicus ) di laboratorium satwa liar. Saya berasal dari sebuah desa di bagian utara kabupaten Tangerang, tepatnya di kecamatan Mauk. Salah satu kecamatan yang termasuk kedalam kecamatan tertinggal dari segi pendidikan. Sedih bukan termasuk ke dalam kecamatan tertinggal. Sejak saya sekolah di bangun sekolah dasar saya sudah mempunyai keinginan untuk kuliah, angan-angan jadi orang yang kuliah dan menjadi orang yang besar. Pikir sempit ku waktu itu. Tapi nyatanya tidak banyak yang akhirnya memiliki pemikiran yang sama untuk kuliah padahal setiap d...

Menantang Diri Lagi???

Menantang Diri Lagi??? Bertemu lagi dengan sabtu malam, di tempat yang sama, dan bukan di asrama tempat ku berdiam diri.  Sangat tidak produktif sekali, menulis tidak lagi menjadi bagian dari prioritas. Padahal tidak hanya satu, dua ataupun tiga ide-ide maupun cerita yang ingin dituangkan dalam tulisan. Sedih sekali rasanya ternyata diri ini masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Sabtu malam ini ingin ku curahkan hati ku, bagaimana bisa anak sekeras ini bisa selemah ini soal percintaan. Menurutku sangat wajar sekali, bahkan harusnya memang bersyukur karena masih bisa merasakan hal seperti ini. Bahkan dengan ini kadang aku jadi belajar bagaimana mengatasi orang-orang yang mengalami hal yang sama. Lalu kamu mau cerita apa kali ini?  Aku mau cerita hal yang sama, yang aku tuju pun sama orangnya. Itu-itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Aku tidak bisa menyebutkan namanya, karena aku pikir semakin hari ke hari sepertinya ini akan menjadi cerita saja. Cerita dari sisa hidup...