"Melawan Sinyal..."
#LembarSatwa17
-SkalaLia-
Melawan Sinyal...Kadang berat, bukan seperti rindu. Tapi seperti kesalahan diri kita yang tidak ingin kita akui..Kadang berat, bukan seperi berat badan kita. Tapi seperti takdir yang kadang tidak ingin kita terima..
Banyak hal yang mungkin bisa jadi ingin
diceritakan kepada kita, ingin didiskusikan, dan didengarkan saja ketika fisik kita tidak ada secara langsung.
Media sosial sejatinya memang tidak bisa lepas
dari masyarakat lokal dan global. Semuanya terkoneksi. Bahkan yang sampai
pedalaman sekalipun tetap butuh akses internet.
Setiap kita melakukan perjalanan, pastilah diri
kita menyiapkan hal-hal rinci salah satunya adalah koneksi internet. Hal yang
menjadi vital melebihi pangan dan sandang. Perjalanan ke hutang Kemuning pun
bukan hal pertama dilakukan. Ini kali ke empat saya berangkat ke hutan
Kemuning, Temanggung. Pertama kali bersama Dewi (motoran) dan kali ketiga dan
ke empatnya saya naik motor bersama teman yang berbeda. Saya tidak pernah ingin
menipu mereka sebelum berangkat, sebelumnya sudah jelaskan dahulu bagaimana kondisi
jalan, berapa lama perjalanannya, dan bagaimana kehidupan di desa Kemuning ini.
Entah tempat tidur,
makan, mandi, dan sinyal internet yang bisa
mereka gunakan. Beberapa orang yang membantu saya selalu menanyakan hal yang
sama "Li di sana sinyalnya apa ya yang kuat?". Beberapa orang
sudah membantu saya memang sempat kesulitan jika sudah berada di tempat
penginapan karena memang sinyalnya tidak sekuat sinyal ketika di dalam hutan.
Di dalam hutan sinyal memang sangat baik, bahkan
ponsel bergetar, berbunyi bisa sering sekali karena semua pesannya berdatangan
tanpa henti. Kuatnya sinyal ternyata bisa berdampak pada efektivitas kerja
seseorang di lapangan. Sinyal kuat membuat mereka juga betah juga di hutan.
Setidaknya betah untuk mengambil data dari satu plot ukur ke plot ukur yang
lain, sembari tak hentinya saya beri semangat. Tapi sinyal kuat juga kadang
membuat mereka jadi lebih fokus pada ponselnya. Bijaknya mereka menggunakannya
ketika pekerjaan mereka di plot ukur sudah selesai. Setidaknya tidak merasa bosan
dalam hutan dan kelelahan karena harus naik turun di medan hutan tempat saya
ambil data.
Lalu mereka juga tidak egois. Teman-teman juga
bisa menghibur teman satu sama lain tanpa harus terfokus dengan kuatnya sinyal
yang ada di ponsel mereka. Candaan aneh, godaan yang tidak berguna, dan
pertanyaan-pertanyaan yang kadang tidak perlu ditanyakan juga tercetus juga di
dalam hutan. Maklum saja, tidak enak saja bukan harus terfokus pada apa yang
kita punya sedangkan saya dan guide
(Mas Budi) tidak terlalu fokus pada ponsel. Saya focus pada ponsel, karena mencari
titik selanjutnya di Avenza (semacam GPS di
ponsel). Hmmm.....
Semuanya soal berbagi, berbagi minum, makan
ringan, candaan dan bagaimana mendefinisikan kata-kata kasar yang sebenarnya
tergantung bagaimana kita menerima kata-kata kasar tersebut. Apapun kata-kata
kasar yang katanya tergantung bagaimana seseorang menerimanya, selama kita bisa
berkata baik maka berkata baik sajalah. Mengganti umpatan yang jelek dengan
yang baik, pun tidak bisa menggantinya, plesetkan saja menjadi lebih sangat
amat halus supaya tidak merugikan
mulut kita dan orang yang mendengarnya...
Hehehe
Lalu bagaimana dengan sinyal jika sudah di
tempat penginapan? Yang jelas semua orang berusaha menghibur diri sendiri dan
orang lain. Semuanya soal berbagi, pun tidak bisa berbagi setidaknya tertawa
tentang cerita hal apapun yang mungkin bisa jadi
tidak terlucu bahkan jayus sekalipun, yang penting
tertawa sajalah selagi masih bisa
membahagiakan orang lain...
Angga dan Dea cukup menghibur, mereka
rekan baru saya untuk pengambil data minggu kedua ini. Tingkah mereka yang bisa
jadi saya rindukan juga...
Saya berterimakasih untuk kedua teman
seperjuangan saya, semoga tidak menjadi kapok atas ini. Cara mereka
membahagiakan saya terlihat ketika mereka maasih mau lanjut ke plot ukur
selanjutnya.. hehehe
`

Komentar
Posting Komentar